Minggu, 15 November 2009

Tugas Teori Akuntansi

1. Konsep Pemeliharaan Modal dalam mendefinisikan income:
Konsep pemeliharaan modal merupakan konsep perhitungan laba. Dalam konsep ini laba dianggap harus memperhitungkan bahwa modal yang diinvestasikan harus terpelihara. Ada dua konsep pemeliharaan modal, yaitu:
a. Pemeliharaan modal keuangan
menurut konsep ini baru disebut laba jika jumlah financial aktiva bersih pada awal periode melebihi jumlah financial aktiva bersih pada awal periode setelah memasukkan kembali setiap distribusi dari dan kepada pemilik. Pengukuran keuangan aktiva bersih dapat dilakukan melalui nilai nominal atau dalam satuan daya belinya.
b. Pemeliharaan modal fisik
Menurut konsep ini hanya bisa disebut laba jika kapasitas produksi fisik atau kemampuan usaha fisik pada akhir periode melebihi kapasitas produktif fisik pada awal periode setelah memasukkan kembali distribusi dari dan kepada pemilik selama periode itu.
Konsep ini muncul dalam praktik akuntansi karena modal itu harus dapat dipelihara yang dapat dinilai dari kemampuan usaha atau kapasitas produksi.

2. Revenue dan laba diakui sepanjang tahap (siklus) operasi, yaitu selama masa diterima, diproduksi, dijual dan ditagih.
Konsep pengakuan pendapatan adalah konsep kejadian kritis (critical event):
merupakan konsep pengakuan pendapatan dimana yang diperhatikan adalah kejadian-kejadian penting dalam siklus operasi perusahaan, yang dapat berupa:
a. pada saat penjualan
revenue pada saat penjualan diakui bila:
- harga produk diketahui secara pasti
- pertukaran telah selesai dengan pengiriman barang sehingga sudah dapat diketahui biaya yang sudah dikeluarkan
- dari segi realisasi, penjualan tersebut dianggap sebagai kejadian penting.
b. pada saat selesainya proyek
revenue diakui pada saat selesainya produksi dapat digunakan dalam situasi pasar stabil dan harga komoditi juga stabil. Kemudian yang dianggap menjadi kejadian penting adalah kegiatan produksi bukan penjualan; seperti jenis logam yang mempunyai harga pasar yang relative stabil seperti emas,perak, dan sejenisnya serta mungkin produk-produk pertambangan dan pertanian yang memenuhi kriteria tersebut.
c. pada saat pembayaran setelah dilakukan penjualan
revenue diakui pada saat pembayaran dilakukan apabila penjualan yang akan dilakukan dan penilaian yang akurat tidak dapat dilakukan pada barang yang akan diserahkan tersebut.
Empat kemungkinan berkaitan antara hasil dan biaya:
- pengurangan langsung biaya terhadap hasil seperti pada harga pokok penjualan mengurangi penjualan
- pengurangan langsung biaya menurut periodenya, seperti gaji direksi
- alokasi biaya pada periode yang memberikan keuntungan, misalnya biaya penyusutan

- membiayakan seluruh cost pada periode yang dibebankan kecuali dapat ditunjukkan bahwa pengeluaran akan memberikan keuntungan di masa yang akan datang, bukan pada periode itu, seperti biaya promosi.

3. Historical Cost Accounting, merupakan prinsip dasar akuntansi dimana cost principle/ acquisition cost/ historical cost merupakan dasar untuk melakukan pencatatan yang tepat untuk mencatat perolehan barang, jasa, biaya, harga pokok dan equity.
Dalam sistem historical cost, setiap perkiraan dinilai berdasarkan harga pertukarannya pada tanggal perolehan.
Laba direalisasikan dengan perbedaan antara pendapatan yang direalisasikan dengan biaya yang direalisasikan, dimana biaya tersebut merupakan pengorbanan (sacrifies) yang diharapkan tidak mendapatkan keuntungan di masa mendatang.
- Current-Value Accounting, merupakan prinsip dasar akuntansi dimana laba dianggap, karena kenaikan harga akan mengakibatkan kas yang digunakan untuk mendapatkannya memang harus seharga itu jika ingin membelinya sekarang.
- General Price Level, merupakan prinsip dasar akuntansi dimana metode Historical Cost disesuaikan dengan perubahan tingkat harga sehingga pada masa inflasi GPL lebih besar daripada nilai Historical Cost.

4. a.Definisi aktiva menurut FASB dan karakteristiknya:
Aktiva adalah kemungkinan keuntungan ekonomi yang diperoleh atau dikuasai di masa yang akan datang oleh lembaga tertentu sebagai akibat transaksi atau kejadian yang sudah berlalu.
Aktiva diklasifikasikan menjadi aktiva lancar, investasi jangka panjang, aktiva tetap, dana cadangan, dan aktiva lain-lain.
- Aktiva lancar
Merupakan sumber daya ekonomis yang diharapkan dapat dicairkan menjadi kas, dijual atau dipakai habis dalam satu periode akuntansi.
- Piutang
Merupakan hak atau klaim kepada pihak ketiga yang diharapkan dapat dijadikan kas dalam satu periode akuntansi.
- Investasi jangka panjang
Merupakan penyertaan modal yang dimaksudkan untuk memperoleh manfaat ekonomis dalam jangka waktu lebih dari satu periode akuntansi.
- Aktiva tetap
Merupakan aktiva berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi dan digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan operasional perusahaan dan nilainya material.
- Aktiva lain-lain



b.Pengakuan aktiva dirasakan lebih sederhana dibandingkan dengan pengukuran aktiva:
Pengakuan aktiva dicatat berdasarkan pada kejadian kapan perusahaan mendapatkan kekayaan/ aktiva itu dari pihak lain.
Sedangkan pengukuran aktiva berdasarkan nilai pertukaran seperti: book value, replacement cost, selling price, net realizable value. Nilai ini sering dianggap tidak konsisten dengan konsep teori pengukuran yang murni.

5. a. Definisi kewajiban menurut FASB dan karakteristiknya:
Kewajiban merupakan kemungkinan pengorbanan kekayaan ekonomi di masa yang akan datang yang timbul akibat kewajiban perusahaan sekarang untuk masa yang akan datang sebagai akibat suatu transaksi atau kejadian yang sudah terjadi.
Karakteristik kewajiban:
- Kewajiban itu benar ada
- Kewajiban itu tidak dapat dihindarkan
- Kejadian yang menyebabkan perusahaan memiliki kewajiban telah terjadi.
b. 2 alternatif pencatatan Obligasi Konversi:
- Pendekatan nilai pasar
Dicatat sebesar nilai pasar surat berharga penukar (saham biasa) atau obligasi.
- Nilai buku obligasi
Dicatat sebesar nilai buku obligasi jika nilai pasar saham atau obligasi tidak dapat ditentukan

6. a. Perbedaan mendasar antara modal saham (stockholder equities) dan Kewajiban (liabilities)
Perbedaannya adalah pencatatan modal saham harus dipisahkan nilai parinya dengan nilai jualnya.
b. Enterprise Theory
Yang menjadi pusat perhatian adalah keseluruhan pihak atau kontestan yang terlibat atau memiliki kepentingan baik langsung maupun tidak langsung dengan perusahaan/ entity.
Misalnya: pemilik, manajemen, masyarakat, pemerintah, kreditor, fiskus regulator, pegawai, langganan, dan pihak yang berkepentingan lainnya.
Dalam praktik bisnis, munculnya employee reporting, human resources accounting, value added reporting, environmental accounting, socio economis accounting merupakan fenomena yang sejalan dengan teori ini.

7. a. 3 tingkatan pengungkapan:
- Adequate : informasi minimum yang harus disajikan
- Fair : aturan etis tentang perlakuan yang sama kepada semua pemakai laporan
- Full : menyangkut kelengkapan penyajian informasi.
Menurut saya, tingkatan yang sebaiknya digunakan adalah yang bersifat adequate karena berdasarkan standar akuntansi yang sangat konservatif.
b. Keunggulan dan kelemahan footnotes:


8. Penilaian terhadap asset:
- Input Value:
Pengukuran persediaan dengan input values merupakan pengukuran resources yang dipakai untuk memperoleh persediaan pada kondisi saat ini, sehingga untuk persediaan yang tidak perlu adanya proses produksi interpretasi mengenai nilai persediaan (input values) sangat jelas. Karena input values disini menggambarkan arus dari pada kas yang telah dikeluarkan sesungguhnya. Sedangkan kalau input values tersebut dari nilai resources yang dipergunakan dalam proses produksi, hal ini akan lebih menyulitkan untuk menentukan input valuesnya, karena adanya proses penilaian resources ke periode yang bersangkutan dan pengalokasian resources ke dalam masing-masing departemen. Namun konsep ini dapat dikurangi tingkat kesulitan penilaiannya dengan penerapan prosedur alokasi costnya, yang hasilnya akan langsung menjadi investment decision model.
- Output Value:
Seperti yang telah diuraikan diatas bahwa persediaan merupakan komponen yang timbul di berbagai tingkatan proses produksi, yang pada umumnya memerlukan kegiatan bernilai ekonomis yang cukup besar, maka dengan metode input values lebih tepat. Tetapi dalam keadaan penentuan crucial event, yaitu menentukan pada saat persediaan diserahkan kepada langganan (penentuan nilai jual), maka lebih tepat kalau digunakan metode output values, karena memperhitungkan nilai current persediaan kalau dijual pada saat itu.
Untuk konsep output values ini ada 3 (tiga) konsep yang dapat digunakan yaitu:
Konsep Discounted Money Receipt: konsep ini menekankan pada, bahwa persediaan dapat dinilai dengan mendiskontokan arus kas di kemudian hari, dengan syarat:
• Nilai atau tingkat harga stabil dan ada kepastian yang tinggi.
• Timing penerimaan kas yang diharapkan cukup memberikan kepastian.
Current Selling Price: konsep ini menekankan nilai persediaan berdasarkan harga jual (pasar) sehingga diperlukan harga yang fixed, sehingga untuk konsep ini disyaratkan:

• Adanya suatu pasar yang terkendali dengan harga yang stabil – tetap.
• Tidak ada komponen biaya tambahan yang besar (material), misalnya biaya bunga atau diskonto dalam penerimaan hasil penjualan.
Net Realizable Values: dalam konsep ini perhitungan biaya yang timbul dari penjualan seperti diskon penjualan harus diperhitungkan dalam nilai penjualan bersih (Net Realizable Values). Maka konsep ini merupakan konsep current output values dikurangi dengan current values dari semua biaya tambahan, misalnya biaya penagihan, biaya penjualan.
9. Argumentasi yang mendukung dan menolak penggunaan general price level accounting:
Argumentasi yang mendukung telah dikembangkan (Richard & Myrtle 1995):

- Bahwa laporan keuangan yang tidak disesuaikan dengan tingkat harga umum atau dengan kata lain disajikan berdasarkan nilai historis tidak mencerminkan perubahan kemampuan atau daya beli (purchasing power) dari bermacam-macam asset dan klaim dalam perusahaan. Sedangkan laporan yang disajikan berdasarkan tingkat harga umum menyajikan data yang mencerminkan purchasing power dari asset dan klaim dalam mata uang tertentu pada akhir periode.
- Bahwa conventional historical-cost accounting tidak mengukur pendapatan (income) dengan sewajarnya sebagai hasil matching Rupiah dalam laporan laba rugi. Beban-beban yang telah terjadi pada periode sebelumnya dikontrakan dengan pendapatan-pendapatan yang umumnya dicerminkan dalam nilai Rupiah tertentu pada saat ini. General price-level accounting menyediakan konsep matching pendapatan dan beban yang lebih baik karena menggunakan nilai uang konstan (common value).
- General price-level accounting relative lebih mudah diterapkan. Hanya sekedar mengganti “nilai lama” dengan “nilai saat ini”. General price-level accounting mencerminkan konsep terakhir dari Prinsip Akuntansi Umum (General Accepted Accounting Principles). Sebagai akibatnya, dirasa relatif lebih obyektif dan dapat diuji kebenarannya. Karakteristik tersebut yang menyebabkan general price-level accounting lebih dapat diterima dibanyak perusahaan disbanding current-value accounting.
- General price-level accounting menyediakan informasi yang relevan bagi manajemen dalam evaluasi dan penggunaannya. Jadi laba dan rugi berdasarkan tingkat harga umum dihasilkan dari penanganan item-item moneter yang merefleksikan respon manajemen terhadap inflasi. Pada akhirnya, general price-level accounting menyajikan pengaruh inflasi secara umum terhadap laba dan menyediakan hasil investasi (rate of returns) yang lebih realistis.



Penolakan terhadap general price-level accounting didasarkan pada beberapa argumentasi berikut:
- Kebanyakan studi empiris mengindikasikan bahwa relevansi dari informasi tingkat harga umum juga lemah atau dengan kata lain tidak dapat diterima.
- Tingkat harga umum merubah rekening hanya untuk perubahan dalam tingkat harga secara umum dan tidak merubah rekening ke dalam tingkat harga tertentu. Jadi, penanganan laba dan rugi untuk asset-aset non moneter tidak diakui dan para pengguna data yang disesuaikan pada tingkat harga umum mungkin mempercayai bahwa perubahan nilai-nilai telah berkorespondensi dengan nilai-nilai saat ini.
- Pengaruh atau akibat adanya inflasi akan berbeda dalam berbagai perusahan. Perusahaan-perusahaan yang intensif modal akan lebih dipengaruhi dengan asset-aset jangka pendek.
- Biaya-biaya diimplementasikan lebih besar dari nilai pokoknya dalam general price-level accounting dibanding benefitnya.

10. a. Konsep COCI
Current Operating Concept of Income (COCI) merupakan konsep pelaporan yang tidak memasukkan losses & expenses yang terjadi dalam periode yang lalu tetapi baru dilaporkan dalam periode berjalan, dalam menghitung net income.
b. Argumentasi yang dikemukakan oleh pendukung konsep COCI dan AICI:
Menurut pendukung konsep COCI bahwa yang dicantumkan dalam laporan laba rugi hanyalah pendapatan yang berasal dari kegiatan normal, sedangkan pos yang berasal dari kegiatan yang tidak biasa dicantumkan saja dalam laporan laba ditahan, sehingga laba yang di bottom line adalah laba normal.
Menurut pendukung konsep AICI bahwa jika semua income yang berasal dari kegiatan normal dan kegiatan insidentil dicantumkan dalam laporan laba rugi dan hasil akhirnya saja yang dilaporkan ke laporan laba ditahan.

11. Pada perusahaan perseorangan maupun firma, modal pemilik tidak dipisahkan dengan modal perusahaan, sebagai laba perusahaan menjadi penghasilan bagi pemiliknya:
Teori ekuitas yang melandasi konsep tersebut adalah The Proprietory Theory. Menurut konsep ini entity itu dianggap sebagai agen,perwakilan, wakalah atau penugasan dari pengusaha atau pemilik. Proprietor (pemilik) merupakan pusat perhatian yang akan dilayani oleh informasi akuntansi, yang digambarkan dalam pelaksanaan pencatatan akuntansi, yang digambarkan dalam pelaksanaan pencatatan akuntansi dan penyajian laporan keuangan. Tujuan dari teori ini adalah menentukan dan menganalisis net worth atau kekayaan bersih perusahaan yang merupakan hak si pemilik.


Ciri-ciri teori ini:
- pemilik memiliki asset dan sekaligus juga kewajiban
- kekayaan bersihnya adalah kekayaan perusahaan dikurangi dengan kewajiban perusahaan
- teori ini berorientasi pada Neraca atau Balance Sheet Oriented
- asset dinilai dan neraca disajikan untuk mengetahui dan mengukur perubahan hak dan kekayaan pemilik.

12. Ditinjau dari praktik akuntansi leasing ini dikategorikan sebagai operating lease, yang sifatnya sama dengan sewa-menyewa biasa. PT. Asiatex tidak mengharapkan profit semata-mata dari transaksi lease tetapi mengharapkan adanya recovery dari hasil penjualan atau dengan menyewakan kembali mesin tersebut kepada pihak yang berikutnya.
Maka, pencatatan pembayaran sewa harus dibukukan sebagai beban dalam perhitungan laba-rugi setelah pembayaran dilakukan atau setelah timbul kewajiban untuk membayar.

13. a. Suatu kejadian luar biasa yang tidak memenuhi persyaratan sebagai suatu extraordinary item harus diungkap dalam laporan keuangan
Menurut PSAK:
- kejadian tidak bersifat normal (tidak biasa), artinya memiliki tingkat abnormal yang tinggi dan tidak berhubungan dengan aktivitas perusahaan sehari-hari
- tidak sering terjadi/ tidak diharapkan akan terjadi di masa yang akan datang.
b. Keadaan/ kondisi suatu kerusakan akibat banjir dapat dianggap sebagai suatu extraordinary item untuk keperluan pelaporan keuangan.
Kerusakan yang diakibatkan banjir dapat berdampak pada kondisi gedung yang mengalami dampak buruknya berupa kerusakan sehingga bersifat infrequency of occurrence, tidak sering terjadi, yaitu kejadian yang tidak secara rasional diperkirakan akan terjadi berulangkali di masa yang akan datang menurut lingkungan kebiasaan dimana perusahaan beroperasi. Jadi, kejadian tersebut memenuhi syarat disebut pos luar biasa.

14. a. Pengeluaran pendapatan dan pengeluaran modal:
Perbedaan antara pengeluaran pendapatan dan pengeluaran modal adalah jangka waktu dan manfaatnya..
1) Pengeluaran modal (capital expenditures) adalah biaya yang mempunyai manfaat lebih dari satu periode akuntansi (biasanya satu tahun). Pengeluaran modal ini pada saat terjadi dibebankan sebagai harga pokok aktiva, dan dibebankan dalam tahun-tahun yang menikmati manfaatnya dengan cara didepresiasi. diamortisasi atau dideplesi.
2) Pengeluaran pendapatan (revenue expenditures) adalah biaya yang hanya mempunyai manfaat dalam periode akuntansi terjadinya pengeluaran tersebut.
Perbedaan ini menjadi penting karena penggolongan biaya merupakan penggolongan proses mengelompokkan secara sistematis atas keseluruhan elemen yang ada ke dalam golongan-golongan tertentu yang lebih ringkas untuk dapat memberikan informasi yang lebih punya arti atau lebih penting
b. Pengertian depresiasi yang digunakan dalam akuntansi:
Suatu sistem akuntansi yang bertujuan untuk mengalokasikan harga pokok/ nilai dasar lain dari aktiva berwujud lainnya dikurangi nilai sisa (jika ada) selama taksiran umur penggunaannya secara sistematis. Ini adalah proses alokasi bukan penilaian. Penyusutan dalam tahun tertentu adalah bagian biaya yang dialokasikan secara sistematis dalam periode itu.
c. Depresiasi tampak di dalam seksi net cash flow from operating activities dari laporan arus kas.
Depresiasi merupakan pengalokasian harga pokok atau nilai dasar lain dari aktiva berwujud lainnya dikurangi nilai sisa (jika ada) selama taksiran umurnya secara sistematis. Jadi, depresiasi mengurangi jumlah aktiva tetap yang dimiliki sehingga menghasilkan nilai buku yang diperlukan dalam penyusunan laporan arus kas.

15. Laporan arus kas menjadi bagian dari laporan keuangan suatu organisasi perusahaan dan menggantikan posisinya laporan perubahan posisi keuangan.
Karena sejak dikeluarkannya FASB Statement No.95 dan perkembangan yang sangat cepat pada konsep Cash Flow Accounting, penekanan akuntansi mengarah pada orientasi arus kas.
Maka, laporan arus kas menjadi bagian dari laporan keuangan suatu organisasi perusahaan yang memberikan informasi yang relevan tentang penerimaan dan pengeluaran kas/ setara kas dari suatu perusahaan pada suatu periode tertentu.

16. Konsep laba:
- Value Added Income
Merupakan konsep laba dimana pegawai, pemilik, kreditor dan pemerintah yang akan menikmati laba perusahaan.
- Enterprice Income
Merupakan konsep laba dimana kelebihan hasil (revenue) dari biaya, seluruh pendapatan (gain) dan rugi dinikmati oleh pemegang saham, pemegang obligasi dan pemerintah.
- Net income to Investor
Merupakan konsep laba dimana laba bersih yang dikurangi pajak penghasilan akan dinikmati oleh pemegang saham, pemegang obligasi dan kreditor jangka panjang.
- Net Income to Stockholders
Merupakan konsep laba dimana laba bersih akan dinikmati oleh pemilik saham.
- Net Income to Residual Equity Holder
Merupakan konsep laba dimana laba bersih kepada pemegang saham dikurangi dividen saham preferen akan dinikmati oleh pemegang saham biasa (sekarang dan yang potensial) terkecuali prioritas pembayaran tidak terpenuhi.
17. - Yang dimaksud dengan pos-pos luar biasa (extraordinary item):
APB mendefinisikan extraordinary item sebagai kejadian atau transaksi yang memengaruhi secara materiil yang tidak diperkirakan terjadi berulangkali dan tidak dianggap merupakan hal yang berulang dalam proses operasi yang biasa dari suatu perusahaan.
- Dua criteria extraordinary item:
a. Unusual nature, yaitu yang bersifat tidak biasa.
Transaksi harus memiliki tingkat ketidakbiasaan yang tinggi dan jelas berhubungan dengan/ tidak secara insidentil dikaitkan dengan kegiatan yang biasa dari suatu perusahaan berdasarkan lingkungan kebiasaan dimana perusahaan itu beroperasi
b. Infrequency of occurrence, tidak sering terjadi, yaitu kejadian atau transaksi yang tidak secara rasional diperkirakan akan terjadi berulang di masa yang akan datang menurut lingkungan kebiasaan dimana perusahaan beroperasi.

18. a. Kerangka kerja konseptual (Conseptual Frame Work) dalam teori akuntansi:
Konsep teori akuntansi adalah pernyataan yang dapat membuktikan kebenarannya sendiri atau disebut juga aksioma yang juga sudah diterima umum karena kesesuaiannya dengan (untuk menopang dan mewujudkan) tujuan laporan keuangan yang menggambarkan sifat-sifat akuntansi yang disajikan sesuai kebutuhan dan penekananya yang berperan dalam ekonomi bebas yang ditandai oleh adanya pengakuan pada pemilikan pribadi.
b. Kerangka kerja konseptual yang berlaku di Amerika Serikat:
Dalam penyusunan standar akuntansi keuangan Amerika serikat sangat berpegang pada kerangka teoretis konseptual yang ditetapkan FASB sebagai berikut:
- Tujuan Pelaporan Keuangan oleh Perusahaan yang bertujuan mencari laba yang diterbitkan November 1978
- Karakteristik Kualitatif Informasi Akuntansi yang diterbitkan Mei 1980 kemudian direvisi dengan Statement Nomor 6, Desember 1980
- Tujuan Pelaporan Keuangan Organisasi Nonprofit diterbitkan Desember 1980
- Pengakuan dan Pengukuran Dalam laporan Keuangan Perusahaan Bisnis diterbitkan Desember 1984
- Elemen-Elemen laporan Keuangan yang diterbitkan pada Desember 1985.
c. Perbedaan mendasar antara kerangka kerja konseptual yang ada di Amerika Serikat dengan yang ada di Indonesia:
Kalau di Indonesia yang berwenang menyusun adalah dewan Standar akuntansi Keuangan yang berada di bawah naungan IAI (Ikatan Akuntan Indonesia). Dewan Standar akuntansi menyerahkan hasil kerjanya kepada Komite pensahan Standar akuntansi keuangan Indonesia dan akhirnya akan ditetapkan dan disahkan dalam kongres IAI.
Sedangkan di Amerika Serikat, lembaga yang berwenang mensahkan standar akuntansi (standard setting body) adalah Financial Accounting Standard Board (FASB) yang bebas dari pengaruh profesi secara langsung. Namun, pada mulanya standar akuntansi dilahirkan oleh AICPA. FASB mengeluarkan Statement of Financial Accounting Standards and Interpretation bersama dengan Accounting Research Bulletin yang dikeluarkan oleh AICPA.
d. Conceptual Framework sangat diperlukan dlam proses pengembangan teori akuntansi:
Menurut saya karena teori konseptual menjadi dasar pelaksanan teknik-teknik akuntansi yang terdiri dari standar (teknik,prinsip) dan praktik yang sudah diterima oleh umum karena kegunaan dan kelogisannya.

19. Struktur teori akuntansi:

1. Objectives of Financial
Statements


2a.The Postulate of accounting 2b. The Theory Concepts of
Accounting



3. The Principle of Accounting


4. The Accounting Techniques


b. 1. Objectives of Financial Statements (tujuan laporan keuangan) adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.
2a. The Postulate of Accounting (Postulat Akuntansi) adalah pernyataan yang dapat membuktikan kebenarannya sendiri atau juga disebut aksioma yang sudah diterima karena kesesuaiannya dengan tujuan laporan keuangan yang menggambarkan sifat-sifat akuntansi yang disajikan sesuai kebutuhan dan penekanannya yang berperan dalam ekonomi bebas yang ditandai oleh adanya pengakuan pada pemilikan pribadi.
2b. The Theory Concepts of Accounting (Prinsip Dasar Akuntansi) adalah prinsip atau sifat-sifat yang mendasari akuntansi dan seluruh output-nya, termasuk laporan keuangan yang dijabarkan dari tujuan laporan keuangan, postulat akuntansi, dan konsep teoritis akuntansi yang merupakan sifat dan kualitas dari akuntansi keuangan yang menjadi dasar dalam pengembangan teknik/ prosedur akuntansi yang dipakai dalam menyusun laporan keuangan.
4. The Accounting Techniques/ Standar (Teknik) Akuntansi:
Adalah peraturan-peraturan khusus yang dijabarkan dari Prinsip dasar Akuntansi, yang mengatur tentang bagaimana standar perlakuan pencatatan dan pelaporan terhadap semua transaksi atau kejadian-kejadian tertentu yang dialami oleh suatu lembaga (entity), organisasi atau perusahaan.
c. Pembentukan hierarki struktur teori akuntansi menggunakan pendekatan:
- Deduktif
Perumusan teori dimulai dari perumusan dalil dasar akuntansi (postulat dan prinsip akuntansi) dan selanjutnya dari rumusan dasar ini diambil kesimpulan logis tentang teori akuntansi mengenai hal yang dipersoalkan. Jadi, perumusan dimulai dari dalil umum kepada dalil khusus.
- Induktif
Penyusunan teori akuntansi didasarkan pada beberapa observasi dan pengukuran khusus dan akhirnya dari berbagai sample dirumuskan fenomena yang seragam atau berulang (informasi akuntansi) dan diambil kesimpulan umum (postulat dan prinsip akuntansi).
- Pragmatis
Perumusan teori akuntansi didasarkan pada keadaan dan praktik di lapangan. Prinsip akuntansi yang dipakai adalah didasarkan pada kegunaannya bagi para pemakai laporan keuangan dan relevansinya dengan proses pengambilan keputusan.
- Sosiologis
Perumusan teori akuntansi didasarkan pada dampak social dari teknik akuntansi. Prinsip akuntansi dinilai dari penerimaan dari seluruh pihak terhadap laporan keuangan, khususnya yang melaporkan tentang dampak perusahaan terhadap masyarakat. Akuntansi dalam model ini harus dapat memberikan pertimbangan dalam mengambil kesimpulan terhadap kesejahteraan masyarakat.
- Elektif
Dalam perumusan teori akuntansi digunakan tidak hanya satu pendekatan, tetapi berbagai kombinasi pendekatan.

20. a) Entitas Akuntansi: menurut teori ini, entity dianggap sebagai sesuatu yang terpisah dan berbeda dari pihak yang menanamkan modal ke dalam perusahaan dan unit usaha itulah yang menjadi pusat perhatian dan menyajikan informasi yang harus dilayani, bukan pemilik. Unit usaha (entity) itulah yang dianggap memiliki kekayaan dan kewajiban perusahaan, baik kepada kreditor maupun kepada pemilik.
b) Entitas akuntansi tidak harus sama dengan entitas hukum (legal entity):
21. Peranan conceptual framework tersebut diatas baik yang di Amerika Serikat maupun di Indonesia:
Conceptual framework memiliki peranan sebagai dasar konseptual standar akuntansi.
Di Indonesia berlaku Prinsip Akuntansi Indonesia kemudian diganti menjadi standar akuntansi keuangan (SAK) Indonesia kemudian diganti menjadi Pernyataan Standar akuntansi Keuangan (PSAK).

Di Amerika Serikat berlaku General Accepted Accounting Principle (GAAP), kemudian Accounting Principle Board Statement dan terakhir menjadi FASB Statements.
22. a) Definisi Revenue (pendapatan) menurut FASB:
Dalam SFAC No. 6, FASB mendefinisi pendapatan sebagai berikut:
Revenues are inflows or other enhancements of assets of an entity or settlement of its liabilities (or combination of both) from delivering or producing goods, rendering services, or other activities that constitute the entity’s ongoing major or central operations.
• FASB SFAC No.6 menekankan pengertian pendapatan pada arus masuk penambahan lain atas aktiva suatu entitas atau penyelesaian kewajiban-kewajibannya atau kombinasi keduanya yang berasal dari penyerahan atau produksi barang, pemberian jasa atau kegiatan-kegiatan lain yang merupakan operasi inti.
Yang dimasukkan ke dalam revenue:
- sewa, bunga, komisi berdasarkan perjanjian yang dibuat sebelumnya yang menjelaskan tentang kenaikan bertahap dari klaim kepada pelanggan
- revenue atas kontrak jasa panjang diakui berdasarkan kemajuan kerja atau persentase siap
- revenue dari cost plus fixed free contract, kontrak yang dibuat berdasarkan fee yang tetap ditambah biaya-biaya tertentu
- perubahan/ asset sebagai akibat pertumbuhan yang menimbulkan kenaikan revenue seperti pabrik anggur, peternakan, perkayuan Hutan Tanam Industri (HTI) dan lain-lain.
b) Pengakuan dan pengukuran Gains dan Losses:
Gains (laba/keuntungan dari transaksi tertentu yang sifatnya insidentil)
Losses (rugi dari transaksi tertentu yang sifatnya insidentil)
Gains
Gains dapat berbentuk transaksi pemberian (hibah) atau transaksi penjualan asset bukan inventory, misalnya aktiva tetap. Hibah: Gains karena hibah dapat menaikkan nilai capital, penilaian gains dilakukan dengan current value dari asset yang diterima.
Penjualan atau pertukaran asset : gains yang timbul dari transaksi ini merupakan selisih antara segi-segi favorable dengan unfavorable, penilaiannya dengan current value. Untuk yang favorable sama dengan penilaian revenues dan yang unfavorable sama dengan expenses, misalnya cost/book value. Sedangkan utk kejadian karena perubahan nilai uang, penggunaan dasar cost / historical cost tidak tepat dan biasanya perubahan ini merupakan restatement of capital dan bukan kenaikan dalam retained earning.
Timing : timing gains penentuannya sama dengan penentuan revenue. Tetapi biasanya gains diakui kalau ada kepastian atas harga pasar.
Di amerika serikat akhir-akhir ini banyak dianut praktek akuntansi yang mencatat gains and losses atas investasi yg berupa saham (marketable securities) apabila ada perubahan harga saham, meskipun terjadi transaksi penjualan. Hal ini dapat diterima dengan alasan sifatnya verifiable dan liquidity.
Losses
Losses, adalah value expiration yang tidak ada hubungan dengan kegiatan normal utama perusahaan. Pengukuran losses sama dengan pengukuran expenses. Suatu losses jangan ditunda atau digeser ke periode berikutnya kalau jumlahnya sudah jelas dan dapat diukur.
APB statement no 3, menyatakan : “suatu index tingkat harga umum, bukan index harga untuk barang dan jasa tertentu, seharusnya dipakai sebagai dasar penyusunan laporan keuangan…..Tujuan restatement tingkat harga umum adalah merestatement laporan keuangan yang menggunakan dollar historis dengan perubahan-perubahan daya beli umum daripada dollar, dan tujuan ini hanya dapat dicapai dengan penggunaan tingkat harga umum”.
Jadi dapat disimpulkan, bahwa penyajian gains and losses dalam laporan keuangan tidak menguraikan secara rinci hasil & bebannya, tetapi cukup menyajikan hasil bersihnya saja, misalnya laba/rugi penjualan aktiva tetap.
23. a. Definisi aktiva menurut FASB (SFAC 6 paragraf 25 beserta karakteristik:
Asset merupakan kemungkinan keuntungan ekonomi yang diperoleh atau dikuasai di masa yang akan datang oleh lembaga tertentu sebagai akibat transaksi atau kejadian yang sudah berlalu.
Karakteristik aktiva:
- Aktiva lancar: memiliki karakteristik dapat dicairkan menjadi kas/bank, dijual atau dipakai habis dalam satu tahun atau dalam siklus kegiatan normal perusahaan jika melampaui satu tahun
- Aktiva tetap: memiliki karakteristik merupakan barang-barang fisik yang:
- dimiliki untuk memperlancar/ mempermudah produksi barang-barang lain atau untuk menyediakan jasa-jasa bagi perusahaan atau para pelanggannya dalam kegiatan normal perusahaan.
- memiliki usia terbatas dan pada akhir usianya harus dibuang atau diganti
- bersifat non moneter; manfaatnya diterima dari penggunaan atau penjualan jasa-jasa dan bukan dari pengupahannya menjadi sejumlah uang yang tertentu
- pada umumnya jasa yang diterima dari aktiva tetap ini meliputi suatu periode yang lebih panjang dari satu tahun atau satu siklus operasi perusahaan.
b. Tiga pengukuran input dalam menilai aktiva:
- Nilai Masukan
Nilai masukan didasarkan atas jumlah rupiah yang harus dikeluarkan atau dikorbankan untuk memperoleh aset atau objek jasa tertentu yang masuk dalam unit usaha. Nilai masukan secara konservatif menunjukkan nilai maksimum objek atau jasa yang bersangkutan. Beberapa dasar dalam penilaian yang masuk dalam kategori nilai masukan adalah; kos historis, kos pengganti, dan kos harapan.
- Nilai Keluaran
Nilai keluaran didasarkan atas jumlah rupiah kas atau penghargaan lainnya yang diterima suatu unit usaha apabila suatu aset atau potensi jasa akhirnya keluar dari kesatuan usahamelalui pertukaran atau konversi. Terdapat beberapa prosedur penilaian dalam kategori nlai keluaran, yaitu:harga jual masa lalu, harga jual sekarang, dan nilai terealisasi harapan.
- Penilaian Menurut FASB
Tanpa memperhatikan sifat masukan dan keluaran, FASB menyarankan untuk tetap menggunakan makna penilaian yang sekarang dipraktikkan. FASB mengidentifikasi lima makna atau atribut yang dapat direpresentasikan dalam berbagai atribut penilaian. Bila dikaitkan dengan aset, dasar penilaian menurut FASB (SFAC No. 5, prg. 67) dapat disarikan berikut ini:
1. Historical cost
2. Current (replacement) cost
3. Current market value
4. Net Realizable value
5. Present (or discounted) value of future cash flows

a) Definisi kewajiban (utang) menurut FASB (SFAC 6 paragraf 35) beserta karakteristiknya:
Kewajiban:… kemungkinan pengorbanan kekayaan ekonomis di masa yang akan dating yang timbul akibat kewajiban perusahaan sekarang untuk masa yang akan datang yang timbul akibat kewajiban perusahaan sekarang untuk masa yang akan datang sebagai akibat suatu transaksi atau kejadian yang sudah terjadi.
Karakteristik kewajiban:
- kewajiban itu benar ada
- kewajiban itu tidak dapat dihindarkan
- kejadian yang menyebabkan perusahaan memiliki kewajiban telah terjadi.
b) Beberapa alternative penyelesaian/saat berakhirnya kewajiban:
- saat dilunasinya kewajiban
- saat perusahaan dinyatakan pailit oleh lembaga yang berwenang menyatakan bahwa perusahaan itu tidak mampu lagi melunasi hutang-hutangnya

24. a) 1. Teori Kepemilikan/Proper Theory: bahwa pandangan kelompok pemilik merupakan pusat dari kepentingan tercermin dari cara penetapan akuntansi dan penyusunan aktiva keuangan (balance sheet oriented)
2. Teori Kesatuan/Entity: memandang kesatuan sebagai suatu yang terpisah dan berbeda dari mereka yang memberi modal pada kesatuan itu ( income statement oriented)
3. Teori Ekuitas Residual: merupakan gabungan antara entity dan proprietory theory dimana yang menjadi sorotan adalah residual equity bukan semua pemilik, residual equity itu hanya pemegang saham biasa atau common stockholders.
4. Teori Dana/ Fund Theory: dasar akuntansi bukanlah pemilik atau kesatuan tetapi sekelompok aktiva dan kewajiban serta modalnya yang disebut dana yang mengatur penggunaan aktiva (asset centered).
b) Rumus masing-masing dari keempat teori tersebut:
1. Teori Kepemilikan/Proper Theory
Asset – Liabilities = Proprietor’s Equity
2. Teori Kesatuan/Entity:
Asset = Equities
Asset = Liabilities + Stockholder’s Equity
3. Teori Ekuitas Residual:
Asset – Liabilities – Prefered Equities = Residual Equity
4. Teori Dana/Fund Theory:
Asset = Pembatasan Aset
c) 1. Teori Kepemilikan: cocok digunakan untuk kondisi perusahaan pemilik dan sekaligus juga mempunyai kewajiban
2. Teori Kesatuan: cocok untuk kondisi (perusahaan) dimana sesuatu yang terpisah dan berbeda dari pihak yang menanamkan modal ke dalam perusahaan dan unit usaha itulah yang menjadi pusat perhatian dan menyajikan informasi yang harus dilayani.
3. Teori Ekuitas Residual: cocok untuk kondisi (perusahaan) dimana kreditor dan pemegang saham preferen karena secara hukum mereka yang diutamakan pembayarannya dalam hal terjadi likuidasi.

25. a. Statement of Financial Accounting concepts (SFAC) yang diterbitkan oleh FASB:
FASB pada tahun 1979 mengeluarkan SFAC dengan judul Objective of Financial by business Enterprises: Dalam laporan keuangan mencakup juga media lain yang berfungsi memberikan informasi yang berhubungan logis atau tidak logis pada informasi yang diberikan oleh system akuntansi, yaitu informasi tentang harta kekayaan perusahaan, kewajiban, pendapatan, dan lain-lain.
b. Pengertian pelaporan keuangan (financial reporting) dan laporan keuangan (financial statement) menurut SFAC:
Laporan keuangan (financial statement) merupakan bagian pokok dari pelaporan keuangan (financial reporting).
Pelaporan keuangan (financial reporting) meliputi seluruh upaya dan pemikiran tentang informasi apa yang harus dimasukkan dalam system pelaporan, kualitas informasi yang bagaimana yang selayaknya dimasukkan dalam sistem pelaporan tersebut dan bagaimana mengungkapan informasi tersebut.

26. a) Pendekatan tradisional perumusan teori akuntansi:
1. Deduktif: perumusan teori dimulai dari perumusan dalil dasar akuntansi (postulat dan prinsip akuntansi) dan selanjutnya rumusan dasar ini diambil kesimpulan logis tentang teori akuntansi mengenai hal yang dipersoalkan. Jadi, perumusan dimulai dari dalil umum kepada dalil khusus.
2. Induktif: penyusunan teori akuntansi didasarkan pada beberapa observasi dan pengukuran khusus dan akhirnya dari berbagai sample dirumuskan fenomena yang seragam atau berulang (informasi akuntansi) dan diambil kesimpulan umum (postulat dan prinsip akuntansi).
3. Etika : perumusan teori akuntansi menggunakan konsep kewajaran, keadilan, pemilikan dan kebenaran.
4. Elektik: perumusan teori akuntansi menggunakan tidak hanya satu pendekatan, tetapi berbagai kombinasi pendekatan.
b) Teori akuntansi merupakan teori yang multiparadigmatis: fenomena dimana melanda akuntansi sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, mengakibatkan semakin munculnya paradigma baru yang pada akhirnya menimbulkan ketergantungan dan keterkaitan yang semakin erat antara satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu lainnya.
Paradigma-paradigma yang ada dalam akuntansi:
A.The Anthropological/ Inductive Paradigm: akuntansi mengutamakan hubungan accountability diantara berbagai pihak yang berkepentingan. Akuntansi dianggap sebagai media atau alat untuk memberikan pertanggungjawaban kepada pihak lain.
B. The True Income/ Deductive Paradigm: akuntansi dianggap sebagai alat ukur yang tepat untuk menilai laba.
C. The Decision Usefulness/ Decision Model Paradigm: akuntansi adalah media atau alat dalam proses pengambilan keputusan sehingga teori akuntansi harus menggunakan konsep yang mendukung proses pengambilan keputusan sehingga teori akuntansi harus menggunakan konsep yang mendukung proses pengambilan keputusan yang tepat disinilah antara lain dianggap “current cash equivalent” sebagai alat ukur yang ideal.
D. The Decision Usefulness/ Aggregate Market Behavior Paradigm: yang menjadi sorotan akuntansi adalah tentang reaksi pasar terhadap data dan angka-angka akuntansi.
E. The Decision Usefulness/ Decision Maker/ Individual User Paradigm: akuntansi dianggap mempunyai pengaruh pada perilaku individu (individual behavior) bukan reaksi pasar (aggregate behavior).
F. The Information/ Economics Paradigm: kerangka dalam menentukan nilai suatu perubahan dalam sistem informasi untuk pengambil keputusan individu harus melihat nilai ekonomis atau cost benefit-nya.

27. Postulat Entity: akuntansi mencatat hasil kegiatan operasi dari suatu entity (perusahaan) yang terpisah dan dibedakan dari pemilik.
Postulat Going Concern: postulat ini menganggap bahwa perusahaan akan terus melaksanakan operasinya sepanjang proses penyelesaian proyek, perjanjian, dan kegiatan yang sedang berlangsung.
Entity Theory: entity sebagai sesuatu yang terpisah dan berbeda dari pihak yang menanamkan modal ke dalam perusahaan dan unit usaha menjadi perhatian dan menyajikan informasi yang harus dilayani.
Cost Principle: dasar penilaian yang tepat untuk mencatat perolehan barang, jasa , biaya, harga pokok dan equity, dimana setiap perkiraan dinilai berdasarkan harga pertukarannya pada tanggal perolehan.
Conservatism Principle: prinsip pengecualian/ prinsip yang mengubah konsensus umum. Prinsip ini menggambarkan bahwa akuntansi itu menganut sikap pesimis sewaktu memilih prinsip akuntansi untuk penyusunan laporan keuangan, dimana digunakan prinsip “Locom” (Lower of Cost or Market) dan potensi rugi atau laba.

28. Dalam SFAC 2 bahwa kualitas utama informasi akuntansi:
1. Relevance: informasi harus relevan untuk memenuhi kebutuhan pemakai dalam proses pengambilan keputusan. Informasi memiliki kualitas relevan kalau dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini atau masa depan, menegaskan atau mengoreksi, hasil evaluasi mereka di masa lalu.
2. Reliability: informasi harus andal (reliable). Informasi ini memiliki kualitas andal jika bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material, dan dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus atau jujur (faithful representation) dari yang seharusnya disajikan/ yang secara wajar diharapkan dapat disajikan.

29. a) Konsep Pemeliharaan Modal ( capital Maintenance Concept): merupakan konsep perhitungan laba, dimana laba dianggap harus memperhitungkan modal bahwa modal yang diinvestasikan harus terpelihara.
b) Perbedaan antara Konsep Pemeliharaan Modal Keuangan dengan Konsep Pemeliharaan Modal Fisik:
- Pemeliharaan Modal Keuangan:
Menurut konsep ini baru bisa disebut laba jika jumlah aktiva financial bersih pada akhir periode melebihi jumlah financial aktiva bersih pada awal peiode setelah memasukkan kembali setiap distribusi dari dan kepada pemilik. Pengukuran keuangan aktiva bersih dapat dilakukan melalui nilai nominal atau dalam satuan daya belinya.
- Pemeliharaan Modal Fisik:
Menurut konsep ini hanya bisa disebut laba jika kapasitas produksi fisik atau kemampuan usaha fisik pada akhir periode melebihi aktivitas produksi fisik pada awal periode setelah memasukkan kembali distribusi dari dan kepada pemilik selama periode itu.
Konsep yang sesuai dalam praktik akuntansi tradisional saat ini adalah konsep pemeliharaan modal keuangan.

Ruang Lingkup Ekonomi Moneter

Ekonomi moneter merupakan bagian dari ilmu ekonomi yang mempelajari tentang sifat, fungsi dan pengaruh uang terhadap kegiatan ekonomi. Cakupan ekonomi moneter antara lain:
1. Peranan dan fungsi uang dalam perekonomian
2. Sistem moneter dan pengaruhnya terhadap jumlah uang beredar dan kredit
3. Struktur dan fungsi bank sentral
4. Pengaruh jumlah uang beredar dan kredit terhadap kegiatan ekonomi
5. Pembayaran serta sistem moneter internasional
Alasan perlunya mempelajari ilmu ekonomi moneter
1. Dapat mengetahui secara mendalam tentang mekanisme penciptaan uang, tingkat bunga, pasar uang, sistem dan kebijakan moneter, serta pembayaran internasional.
2. Dapat mengetahui serta menganalisa beberapa fenomena moneter dalam kaitannya dengan efek kebijakan moneter terhadap kegiatan ekonomi.
Pengertian Uang
Uang dalam ilmu ekonomi tradisional didefinisikan sebagai setiap alat tukar yang dapat diterima saecara umum. Alat tukar itu berupa benda apa saja yang dapat diterima oleh setiap orang di masyarakat dalam proses pertukaran barang dan jasa.
Sedangkan uang dalam ilmu ekonomi modern, didefinisikan beberapa ahli sebagai berikut:
1. AC Pigou; dalam bukunya The Veil of Money, yang dimaksud uang adalah alat tukar.
2. DH Robertson; dalam bukunya Money, ia mengatakan bahwa uang adalah sesuatu yang bisa diterima dalam pembayaran untuk mendapatkan barang-barang.
3. RG Thomas; dalam bukunya Our Modern Banking, menjelaskan uang adalah sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya serta untuk pembayaran utang.
Peran Uang dalam Perekonomian
Semua aspek kehidupan manusia dalam peradaban modern saat ini tidak terlepas dan ditopang sepenuhnya oleh uang. Tidak ada satupun peradaban di dunia ini yang tidak mengenal dan menggunakan uang. Kalaupun ada, maka perekonomian dalam peradaban tersebut pasti stagnan dan tidak berkembang.
Peran uang dalam perekonomian dapat diibaratkan darah yang mengalir dalam tubuh manusia. Tanpa darah, manusia seakan-akan hendak mati. Kekurangan uang bagaikan kekurangan darah yang mengakibatkan gairah hidup menurun dan lemah, yang pada akhirnya manusia menjadi sakit-sakitan.
Abraham H. Maslow dalam teori Motivasinya mengatakan bahwa kebutuhan manusia yang paling mendasar adalah kebutuhan fisik. Kebutuhan fisik manusia tidak lain adalah berupa barang dan jasa. Untuk memenuhi kebutuhan akan barang dan jasa tersebut, cara yang paling mudah adalah dengan memiliki sesuatu yang disebut UANG. Karena uang adalah sesuatu benda yang diterima dan digunakan secara umum sebagai alat untuk memudahkan proses transaksi dalam memenuhi kebutuhan manusia berupa barang dan jasa. Sehingga secara tidak langsung juga dapat dikatakan bahwa kebutuhan yang paling “mendasar” dalam perekonomian dan kehidupan sosialnya adalah uang.
Uang yang semula dimaksudkan berfungsi sebagai alat tukar dan standar satuan nilai ternyata juga berdampak terhadap fokus budaya manusia ketika uang diaplikasikan sebagai properti yang menentukan martabat seseorang di tengah masyarakat. Dalam sejarahnya, peranan dan fungsi uang telah berkembang secara pesat, tanpa mengenal batas, ras, bangsa dan negara sehingga uang telah ikut memberikan andil yang penting dalam proses perkembangan peradaban manusia secara global. Aphra Behn, seorang dramawan abad ke-17 menulis dalam bukunya The Rover (1677) “Uang berbicara dalam bahasa yang dimengerti semua bangsa”.
Uang memang benda mati. Namun ternyata ia bisa mengendalikan hidup manusia. Ini bisa terjadi jika manusia lupa akan fungsi dan peran uang yang sesungguhnya. Dengan uang – yang notabene adalah benda mati – napas hidup perekonomian suatu negara dapat terlihat. Dengan uang manusia bisa membeli rasa “aman:, bersosialisasi, dihargai dan dihormati. Dengan uang manusia dapat mengaktualisasikan dirinya.
Sejarah Perkembangan Uang
1. Tahap sebelum barter
Pada tahap ini masyarakat belum mengenal pertukaran karena setiap orang berusaha memenuhi kebutuhannya dengan usaha sendiri. Apa yang diperolehnya itulah yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhannya.
2. Tahap barter
Tahap selanjutnya menghadapkan manusia pada kenyataan bahwa apa yang diproduksi sendiri tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Untuk memperoleh barang-barang yang tidak dapat dihasilkan sendiri mereka mencari dari orang yang mau menukarkan barang yang dimilikinya dengan barang lain yang dibutuhkannya. Akibatnya barter, yaitu barang ditukar dengan barang.
Namun akhirnya dirasakan ada kesulitan-kesulitan dengan sistem ini, di antaranya:
- Kesulitan untuk menemukan orang yang mempunyai barang yang diinginkan dan juga mau menukarkan barang yang dimilikinya.
- Kesulitan untuk memperoleh barang yang dapat dipertukarkan satu sama lainnya dengan nilai pertukaran yang seimbang atau hampir sama nilainya.
Untuk mengatasinya mulai timbul pikiran-pikiran untuk menggunakan benda-benda tertentu untuk digunakan sebagai alat tukar.
3. Tahap uang barang
Pada masa ini timbul benda-benda yang selalu dipakai dalam pertukaran. Kesulitan yang dialami oleh manusia dalam barter adalah kesulitan mempertemukan orang-orang yang saling membutuhkan dalam waktu bersamaan. Kesulitan itu telah mendorong manusia untuk menciptakan kemudahan dalam hal pertukaran, dengan menetapkan benda-benda tertentu sebagai alat tukar.
Benda-benda yang ditetapkan sebagai alat pertukaran adalah benda-benda yang diterima oleh umum (generaly accepted). Benda-benda yang dipilih bernilai tinggi (sukar diperoleh atau memiliki nilai magis dan mistik), atau benda-benda yang merupakan kebutuhan primer sehari-hari. Misalnya, garam oleh orang Romawi digunakan sebagai alat tukar, maupun sebagai alat pembayaran upah. Pengaruh orang Romawi tersebut masih terlihat sampai sekarang. Orang Inggris menyebut upah sebagai salary, yang berasal dari bahasa Latin Salarium yang berarti garam. Orang Romawi membayar upah dengan salarium (garam).
Penduduk asli Bandiagara di pedalaman benua Afrika mempertukarkan hasil pertaniannya, dari sebakul tomat dengan sejumlah kebutuhan harian, susu, gandum dan sejenisnya. Transaksi yang awalnya dilakukan dengan barter ini kemudian berkembang dengan menggunakan alat tukar yang terbuat dari hasil bumi seperti coklat dan sejenisnya (uang komoditi)
Meskipun alat tukar sudah ada, kesulitan pertukaran tetap ada diantaranya:
- Nilai yang dipertukarkan belum mempunyai pecahan.
- Banyak jenis uang barang yang beredar dan hanya berlaku di masing-masing daerah.
- Sulit untuk penyimpanan (storage) dan pengangkutan (transportation).
- Mudah hancur atau tidak tahan lama.
4. Tahap uang logam
Tahap selanjutnya adalah tahap uang logam. Logam dipilih sebagai bahan uang karena:
- digemari umum
- tahan lama dan tidak mudah rusak
- memiliki nilai tinggi
- mudah dipindah-pindahkan
- mudah dipecah-pecah dengan tidak mengurangi nilainya
Bahan yang memenuhi syarat-syarat tersebut adalah emas dan perak. Uang yang terbuat dari emas dan perak disebut uang logam. Uang logam emas dan perak juga disebut sebagai Uang Penuh (full bodied money), artinya nilai intrinsik (nilai bahan uang) sama dengan nilai nominalnya (nilai yang tercantum pada mata uang tersebut). Pada saat itu, setiap orang menempa uang, melebur, dan memakainya dan setiap orang mempunyai hak tidak terbatas dalam menyimpan uang logam.
Penggunaan emas dan perak sebagai bahan uang dalam bentuk koin diciptakan oleh Croesus di Yunani sekitar 560-546 SM. Bersamaan dengan itu, medium uang yang berfungsi sebagai instrumen alat bayar mulai dikembangkan, dibuat dari berbagai benda padat lainnya seperti tembikar, keramik atau perunggu.
Sejalan dengan perkembangan perekonomian, maka perkembangan tukar-menukar yang harus dilayani dengan uang logam juga berkembang. Sedangkan jumlah logam mulia terbatas. Penggunaan uang logam juga sulit dilakukan untuk transaksi dalam jumlah besar (sulit dalam hal penyimpanan dan pengangkutan). Sehingga terciptalah uang kertas.
5. Tahap uang kertas
Mula-mula uang kertas yang beredar merupakan bukti-bukti kepemilikan emas dan perak sebagai alat/perantara untuk melakukan transaksi. Dengan kata lain, uang kertas yang beredar pada saat itu merupakan uang yang dijamin 100% dengan emas atau perak yang disimpan di pande emas atau perak dan sewaktu-waktu dapat ditukarkan penuh dengan jaminannya.
Selanjutnya masyarakat tidak lagi menggunakan emas – secara langsung – sebagai alat pertukaran. Sebagai gantinya mereka menjadikan kertas bukti tersebut sebagai alat tukar.
Desa Jachymod di Ceko, Eropa Timur, dianggap sebagai wilayah pertama yang menggunakan mata uang yang diberi nama dollar, yang merupakan mata uang yang paling populer di abad modern.. Mulanya disebut Taler, kemudian orang Italia mengejanya Tallero, lidah Belanda menuturkan daler, Hawai dala, dalam dialek Inggris diungkapkan sebagai dollar. Embrio dollar dibuat dari bahan baku perak dan emas dalam bentuk koin.
Pada mulanya, taler sendiri adalah sebutan mata uang yang berkembang di daratan benua Eropa sejak abad ke-16 yang jenisnya lebih dari 1500. namun dalam peradaban modern, masing-masing bangsa atau negara menciptakan sebutan tersendiri bagi mata uangnya untuk menunjukkan statusnya yang independen.
Dalam sejarah pemakaian kertas sebagai bahan pembuat uang, Cina dianggap sebagai bangsa yang pertama menemukannya, yaitu sekitar abad pertama Masehi, pada masa Dinasti T’ang. Benjamin Franklin (AS) ditetapkan sebagai Bapak Uang Kertas karena ia yang pertama kali mencetak dollar dari bahan kertas, yang semula digunakan untuk membiayai perang kemerdekaan Amerika Serikat. Sebagai penghormatan pemerintah terhadap Benjamin Franklin, potretnya diabadikan di lembaran mata uang dollar pecahan terbesar yaitu USD 100.
Dalam perjalanannya penggunaan uang kertas berkembang menjadi atribut dan simbol sebuah negara. Namun sebagai garansi dari negara yang bertanggung jawab atas peredarannya, maka jumlah uang kertas yang diterbitkan selalu dikaitkan dengan jumlah cadangan emas yang dimiliki oleh negara yang bersangkutan. sekitar tahun 1976, ketergantungan pencetakan uang kertas sudah tidak lagi dihubungkan dengan cadangan emas, tetapi dibiarkan bergulir dan terjun ke pasar besar menghadapi hukum penawaran dan permintaan sebagaimana yang tumbuh dalam hukum ekonomi.
Fungsi Uang
1. Fungsi Asli
- Sebagai alat tukar (medium of change)
Dengan uang orang yang akan melakukan pertukaran tidak perlu menukarkan dengan barang, tetapi cukup menggunakan uang sebagai alat tukar. Kesulitan-kesulitan pertukaran dengan cara barter dapat diatasi dengan pertukaran uang.
- Sebagai satuan hitung (unit of account)
Uang dipakai untuk menunjukkan nilai berbagai macam barang dan jasa yang diperjualbelikan, menunjukkan besarnya kekayaan, dan menghitung besar kecilnya pinjaman. Uang juga dipakai untuk menentukan harga barang/jasa. Sebagai alat satuan hitung, uang berperan untuk memperlancar pertukaran.
- Sebagai penyimpan nilai (store of value)
Dapat digunakan untuk mengalihkan daya beli dari masa sekarang ke masa mendatang. Ketika seorang penjual saat ini menerima sejumlah uang sebagai pembayaran atas barang dan jasa yang dijualnya, maka ia dapat menyimpan uang tersebut untuk digunakan membeli barang dan jasa di masa mendatang.
2. Fungsi Turunan
- Sebagai alat pembayaran
- Untuk menentukan harga
- Sebagai alat pembayaran hutang
- Sebagai alat penimbun kekayaan
- Sebagai alat pemindahan kekayaan (modal)
- Sebagai alat untuk meningkatkan status sosial
Syarat-syarat Uang
1. Diterima secara umum (acceptability)
2. Memiliki nilai yang cenderung stabil (stability of value)
3. Ringan dan mudah dibawa (portability)
4. Tahan lama (durability)
5. Kualitasnya cenderung sama (uniformity)
6. Jumlahnya terbatas dan tidak mudah dipalsukan (scarcity)
7. Mudah dibagi tanpa mengurangi nilai (divisibility)
Jenis uang berdasarkan tingkat likuiditasnya terbagi atas:
- M1 adalah uang kertas dan logam ditambah simpanan dalam bentuk rekening koran (demand deposit).
- M2 adalah M1 + tabungan + deposito berjangka (time deposit) pada bank-bank umum.
- M3 adalah M2 + tabungan + deposito berjangka pada lembaga-lembaga tabungan nonbank.
Klasifikasi Uang
1. Full bodied money
Nilai yang tertera di atas uang tersebut sama nilainya dengan bahan yang digunakan. Dengan kata lain, nilai nominal = nilai instrinsik. Jika uang tersebut terbuat dari emas, maka nilai uang itu sama dengan nilai emas yang dikandungnya.
2. Representative full bodied money
Uang ini terbuat dari kertas, dengan demikian nilainya sebagai barang tidak ada (nol). Uang jenis ini hanya mewakili (represent) dari sejumlah barang/logam di mana nilai logam sebagai barang sama dengan nilainya sebagai uang. Misal: surat emas (gold certificate) yang beredar di AS sebelum ditarik pada tahun 1933.
3. Credit money
Jenis uang dimana nilainya sebagai uang lebih besar daripada nilai sebagai barang. Dalam keadaan tertentu nilai sebagai barang tidak penting, seperti uang kertas. Untuk memelihara nilai sebagai barang lebih rendah daripada nilai sebagai uang maka pemerintah membatasi pencetakan uang.

Mengukur Nilai Tambah ( Value Added )

Oleh karena setiap alat ukur yang ada memilki beberapa keterbatasan ,C.W. Hofer merekomendasi penggunaan pengukuran nilai tambah dalam mengukur kinerja perusahaan . Nilai tambah (value added) adalah selisih penjualan dan biaya yang dikeluarkan untuk bahan baku dan pembelian material pendukung.

Return on value added (ROVA) adalah salah satu alat ukur yang membagi laba bersih sebelum pajak dengan nilai tambah dan mengubah hasil yang diperoleh ke dalam bentuk prosentase. Hofer berpendapat bahwa ROVA dapat menjadi alat ukur yang lebih baik dalam menilai kinerja perusahaan dalam berbagai industri daripada alat – alat ukur lainnya yang saat ini digunakan (16).Nilai tambah merupakan cara yang cukup bermanfaat untuk mengaplikasikan konsep rantai nilai (Value Chain) yang diajukan oleh Porter (Bab-5-Red) .Sayangnya, kelemahan utama penggunaan nilai tambah adalah gambaran – gambaran yang diperlukan tidak tersedia dengan mudah . Di Amerika Serikat, nilai tambah tidak dapat dihitung berdasarkan laporan keuangan tradisional karena alokasi biaya tenaga kerja,biaya tidak langsung dan biaya overhead dimasukkan ke dalam biaya total harga pokok barang yang diproduksi .Namun demikian, para ahli berpendapat dalam masalah ini bahwa dengan menggabungkan pengukuran nilai tambah dengan pengukuran tradisional kinerja perusahaan, diperoleh gambaran yang lebih lengkap dan realistis tentang kinerja sebuah perusahan (17).

Menilai Pemegang Saham

Karena adanya keyakinan bahwa angka – angka berdasarkan perhitungan akuntansi seperti ROI, ROE , EPS bukan merupakan indicator yang dapat diandalkan terhadap nilai ekonomis sebuah perusahaan , banyak perusahaan menggunakan nilai pemegang saham sebagai alat ukur yang lebih baik terhadap kinerja perusahaan dan efektivitas manajemen strategis . Nilai pemegang saham dapat didefinisikan sebagai nilai sekarang dari antisipasi aliran arus kas di masa yang akan datang dari sebuah bisnis ditambah nilai perusahaan apabila dilikuidasi (18). Berdasarkan argument bahwa tujuan perusahaan adalah meningkatkan kesejahteraan para pemegang sahamnya, maka analisis nilai pemegang saham berpusat pada arus kas sebagai alat ukur utama terhadap kinerja . Nilai sebuah perusahaan karena itu adalah nilai diskonto arus kasnya terhadap nilai sekarangnya, dengan menggunakan biaya modal sebagai tingkat diskontonya.Sehingga jika pengembalian yang dihasilkan sebuah bisnis melebihi biaya modalnya, bisnis tersebut akan menciptakan nilai dan dianggap berharga lebih dari modal yang diinvestasikan ke dalamnya .(19)

Nilai tambah ekonomis (economic value added/EVA) menjadi metode nilai pemegang saham yang begitu popular dalam mengukur kinerja perusahaan dan divisi dan pada akhirnya menggantikan ROI sebagai standar pengukuran kinerja.EVA mengukur selisih antara nilai sebuah bisnis sebelum dan sesudah sebuah strategi diimplementasi.Jika selisih yang diperoleh ,yaitu diskonto terhadap biaya modalnya positif, maka strategi yang diambil perusahaan menghasilkan nilai bagi pemegang sahamnya (20). Di antara perusahaan – perusahaan yang menggunakan metode pengukuran baru ini adalah Coca Cola, AT & T , Quaker Oats , Briggs & Stratton dan CSX . A. Rappaport, pakar dalam nilai pemegang saham menyatakan bahwa nilai yang dihasilkan oleh sebuah rencana bisnis yang khusus dapat diproyeksikan dengan menghitung nilai kapitalisasi selisih antara margin operasi dan oerating return minimum yang dapat diterima atas penjualan terakhir (21). Singkatnya EVA adalah laba operasi setelah pajak dikurang dengan total biaya modal tahunan .Seperti yang dijelaskan oleh Roberto Goizueta, CEO Coca Cola, “Kami meningkatkan modal dalam membuat konsentrat dan menjualnya sebagai laba operasi.Kemudian Kami membayar biaya modal tersebut.Para pemegang saham mengantungi selisihnya.” (22). Tidak seperti ROI , salah satu keunggulan EVA adalah hubungannya yang kuat pada harga saham . Para manajer dapat meningkatkan EVA Perusahaan atau unit bisnis dengan cara :

1. Mendapatkan lebih banyak laba tanpa menggunakan lebih banyak modal
2. Menggunakan lebih sedikit modal dan
3. Menginvestasi modal dalam proyek – proyek yang menghasilkan pengembalian yang tinggi.

Evaluasi Terhadap Manajemen Puncak

Melalui komite strategi, audit dan kompensasi, dewan komisaris dapat menilai kinerja CEO dan tim manajemen puncaknya. tentu saja dewan komisaris sangat memperhatikan keseluruhan profitabilitis yang diukur secara kuantitatif dengan ROI,ROE,EPS dan nilai pemegang saham . Tidak adanya profitabilitas dalam jangka pendek tentunya merupakan salah satu factor yang menyebabkan pemecatan seorang CEO, namun demikian dewan komisaris juga akan memperhatikan factor – factor lainnya .

Anggota komite kompensasi dari dewan komisaris yang bertugas saat ini pada umumnya setuju bahwa dengan megukur kemampuan seorang CEO dalam menetapkan arah strategi, membangun sebuah tim manajemen dan memberikan kepemimpinan adalah jauh lebih penting dalam jangka panjang dibandingkan beberapa ukuran kuantitatif.(23). Dewan komisaris seharusnya mengevaluasi manajemen puncak tidak hanya pada ukuran kuantitatif yang berorientasi pada output, tetapi juga pada ukuran – ukuran perilaku factor – factor yang berkaitan dengan praktik – praktik manajemen strategis .Sayangnya , jumlah perusahaan yang secara sistematis mengevaluasi kinerja para CEO-nya kurang dari 30 persen . (24).

Pengukuran – pengukuran khusus yang digunakan oleh dewan komisaris untuk mengevaluasi manajemen puncaknya, seharusnya didasarkan pada sasaran sasaran yang sebelumnya telah disetujui bersama oleh kedua belah pihak.Jika hubungan yang lebih baik dengan masyarakat setempat dan meningkatnya tingkat keselamatan kerja digunakan sebagai sasaran pada tahun tersebut (atau dalam lima tahun), maka kemajuan yang diperoleh dalam memenuhi sasaran tersebut haruslah dievaluasi. Sebagai tambahan, factor – factor lain yang cenderung membaw akepada profitabilitas dapat pula dimasukkan , seperti pangsa pasar , kualitas produk dan intensitas invenstasi .



Pemeriksaan Manajemen

Digunakan oleh berbagai perusahaan konsultan sebagai cara untuk mengukur kinerja, pemeriksaan (audit) terhadap aktivitas perusahaan seringkali disarankan untuk digunakan oleh dewan komisaris dan juga para manajer. Pemeriksaan manajemen telah dikembangkan untuk mengevaluasi berbagai aktivitas, seperti tanggung jawab social perusahaan , wilayah wilayah fungsional seperti departemen pemasaran dan pada divisi seperti dalam divisi Internasional – dan untuk memeriksa perusahaan sendiri seperti pemeriksaan terhadap strategi yang diambil (lihat bab 2). Untuk lebih efektif, pemeriksaan startegis harus pararel dengan proses manajemen strategis perusahaan.

Mengukur Kinerja Divisional dan Fungsional

Perusahaan–perusahaan menggunakan berbagai teknik untuk mengevaluasi dan mengawasi kinerja dalam divisi, SBU dan wilayah–wilayah fungsionalnya.Jika perusahaan diorganisasi oleh SBU atau divisi, perusahaan tersbeut akan menggunakan banyak pengukuran kinerja yang sama (missal ROI atau EVA ) yang akan digunakan oleh perusahaan untuk menilai keseluruhan kinerja perusahaan . Jika perusahaan dapat mengisolasi unit fungsional tertentu, seperti R&D, perusahaan dapat mengembangkan pusat – pusat pertanggung jawaban.Perusahaan juga dapat menggunakan alat ukur fungsional pada umumnya seperti pangsa pasar dan penjualan per karyawan (pemasaran), biaya tiap unit dan persentase produk cacat (proses operasi), persentase penjualan produk baru dan jumlah pattern yang diperoleh (R&D) dan keluar masuk dan kepauasan kerja para karyawan (HRM).

Selama masa perumusan dan implementasi strategi, manajemen puncak menyetujui serangkaian program dan anggaran pendukung operasi yang diajukan oleh unit – unit bisnisnya(25).Selama masa evaluasi dan control, manajemen sebaliknya membandingkan antara biaya actual yang dikeluarkan dengan pengeluaran yang direncanakan dan menilai seberapa besar penyimpangan,khususnya yang terjadi setiap bulannya . Lebih lanjut , manajemen puncak mungkin akan meminta laporan statistic secara periodek yang meringkas seluruh data tentang factor – factor kunci , seperti jumlah pelanggan baru yang diperoleh , jumlah order yang diterima dan produktivitasnya selain factor – factor lain .












Pengendalian dan Strategi Unit Bisnis

Strategi yang dipilih oleh SBU harus dapat mempengaruhi jenis pengendalian yang dipilih pula.(26). Penelitian yang dilakukan oleh Govindarajan dan Fisher menunjukkan bahwa SBU berkinerja tinggi yang mengambil strategi kepemimpinan biaya yang kompetitif cenderung menggunakan output – otuput dari pengendalian, seperti komisi langsung atau komisi berdasarkan jumlah yang terjual.Pendekatan ini sangat logis karena biaya biasanya dapat dengan mudah ditenukan.Sebaliknya, SBU berkinerja tinggi yang mengambil startegi differensiasi yang kompetitif cenderung menggunakan pengendalian perilaku, seperti kompensasi gaji. Faktor – faktor seperti bakat yang kreatif, riset dan pengembangan yang kuat dan pengembangan produk yang inovatif, merupakan hal penting bagi strategi tersebut namun sulit dikuatifikasi.(27)

Mari kita perhatikan dua perusahaan sebagai contoh.Digital Equipment Coorporation (DEC) mengambil strategi diferensiasi.Data General mengambil strategi biaya rendah dan sistem kontrol mereka berbeda satu sama lainnya sesuai strategi yang dipilih. Tenaga wiraniaga DEC digaji berdasarkan gaji langsung, sementara tenaga wiraniaga Data General menerima 50 persen gaji mereka sebagai komisi. Para manajer produk di DEC dievaluasi berdasarkan kualitas hubungan dengan para pelanggan, sementara manajer produk Data General dievaluasi dengan ketat berdasarkan hasil yang diperoleh , yaitu laba . Penelitian menyimpulkan bahwa “untuk meningkatkan efektivitas, kedua startegi baik kepemimpinan biaya maupun diferensiasi, sama sama perlu disesuaikan dengan kontrol terhadap output dan perilaku. “ (28).

Pusat – Pusat Pertanggungjawaban

Sistem-sistem pengendalian dapat dibangun untuk memantau fungsi–fungsi, proyek–proyek atau divisi – divisi tertentu.Sebagai contoh , anggaran biasanya digunakan untuk mengobtrol indikator – indikator kinerja keuangan bersama dengan pusat – pusat pertanggungjawaban.Pusat pertangung jawaban adalah unit yang dapat dievaluasi terpisah dari unit perusahaan lainnya.Setiap pusat pertanggung jawaban dipimpin oleh seorang manajer yang bertanggung jawab atas kinerja unit tersebut, memiliki anggaran sendiri dan dievaluasi berdasarkan penggunaan sumber daya pada anggarannya. Pusat pertanggungjawaban menggunakan sumber daya (diukur dalam bentuk biaya atau pengeluaran) untuk menghasilkan jasa atau produk (diukurdalam bentuk jumlah atau pendapatan yang diterima).Jenis pusat – pusat pertanggung jawaban yang digunakan ditentukan oleh cara sistem kontrol perusahaan mengukur sumber – sumber daya tersebut dan jasa atau produk yang dihasilkan. Ada lima jenis utama pusat pertanggungjawaban .(29)

1. Pusat Biaya Standar, terutama digunakan dalam fasilitas – fasilitas manufaktur, biaya-biaya standar (atau perkiraan) dihitung untuk setiap operasi berdasarkan data historis. Untuk mengevaluasi kinerja pusat pertangung jawaban, total biaya standar pusat pertanggungjawaban dikalikan unit produksi yang dihasilkan; hasilnya adalah perkiraan biaya produksi, yang kemudian dibandingkan dengan biaya produksi aktual.
2. Pusat Pendapatan, Produksi, biasanya dalam bentuk unit produksi atau penjualan dalam dollar,diukur tanpa memperhatikan biasaya sumber daya (misalnya : gaji). Pusat pertanggungjawaban dinilai dalam hal efektifitas daripada efisiensi. Efektivitas wilayah penjualan , misalnya ditentukan oleh perbandingan penjualan aktual dengan proyeksi penjualan atau penjualan tahun lalu. Laba tidak diperhatikan karena departemen penjualan memilki pengaruh terbatas terhadap biaya yang dikeluarkan untuk produk yang mereka jual.

3. Pusat Pengeluaran, sumber – sumber daya diukur dalam dollar tanpa memperhatikan biaya produk atau jasa layanan yang dihasilkan.Dengan demikian, anggaran dipersiapkan untuk pengeluaran – pengeluaran rekayasa (biaya – biaya yang dapat dihitung) dan pengeluaran discretionary (biaya – biaya yang hanya dapat dietimasi). Pusat pengeluaran ini baisanya berasal dari departemen – departemen yang bersifat administratif, pelayanan dan penelitian. Pusat pertanggung jawaban jenis ini memang membebani pendapatan organisasi, namun memberikan kontribusi terhadap pendapatan yang diterima secara tidak langsung.

4. Pusat Laba , pada pusat pertanggungjawaban ini kinerja diukur berdasarkan selisih antara pendapatan (yang diukur dalam produksi) dan pengeluaran (yang diukur dalam pemakaian sumber daya). Pusat laba biasanya ditetapkan ketika sebuah unit organisasi berusaha mengontrol sumberdayanya dan produk atau jasa layanan yang dihasilkannya. Dengan memiliki pusat pertanggungjawaban seperti itu, perusahaan dapat diorganisasi ke dalam divisi – divisi lini produk yang terpisah. Para manajer setiap divisi diberi otonomi yang besarnya berdasarkan kemampuan mempertahankan laba pada tingkat yang memuaskan (atau lebih baik).

Beberapa unit organisasi yang biasanya dianggap tidak memilki potensi kemampuan otonomi dapat dibuat menjadi pusat – pusat laba untuk keperluan penilaian terhadap pusat – pusat laba.Departemen pemanufakturan, misalnya dapat diubah dari pusat biaya standar (atau pusat pengeluaran) menjadi pusat laba , yang memungkinkan untuk menetapkan harga perpindahan untuk setiap produk yang dijual pada departemen penjualan. Selisih antara biaya pemanufakturan per unit dengan harga perpindahan yang telah disetujui sebelumnya merupakan “laba” unit tersbeut .Penetapan harga perpindahan secara umum digunakan dalam perusahaan – perusahaan yang terintegrasi vertikal dan dapat berfungsi dengan baik ketika harga dapat ditentukan dengan mudah pada sejumlah produk yang telah ditetapkan .Hanya sekitar 30 – 40 persen perusahaan yang menggunakan harga pasar untuk menentukan harga perpindahan , walaupun banyak para pakar berpendapat bahwa harga perpindahan berdasarkan pasar adalah pilihan terbaik. (Sedangkan sisanya,50 persen menggunakan biaya dan 10 sampai 20 persen menggunakan negoisasi antar unit)(30). Jika harga tidak mudah untuk ditetapkan , kekuatan tawar menawar setiap pusat pertanggungjawaban, dengan sedikit mengabaikan pertimbangan strategis, cenderung mempengaruhi harga yang telah disetuhui sebelumnya.(31). Manajemen puncak mempunyai kewajiban untuk memastikan bahwa besarnya pertimbangan politis tidak akan melebihi besarnya pertimbangan strategis. Jika tidak, maka besarnya laba yang diperoleh setiap pusat pertanggung jawaban akan bias dan akan memberikan informasi yang buruk bagi pengambilan keputusan strategis pada tingkat korporasi .

5. Pusat Investasi: oleh karena banyak divisi dalam perusahaan – perusahaan pemanufakturan besar menggunakan asetnya dengan cukup signifikan dalam memproduksi produk – produk mereka, maka penilaian atas aset harus dimasukkan sebagai faktor atau unsur penting dalam menilai kinerja divisi tersebut . Bila hanya memfokuskan pada laba yang diperoleh, sebagaimana dalam pusat laba, maka penilaian kinerja tidak akan cukup memadai. Kinerja pusat investasi diukur berdasarkan selisih antara penggunaan sumber daya dan produk atau jasa yang dihasilkan. Sebagai contoh, jika dua divisi dalam sebuah perusahaan menghasilkan laba yang sama , namun salah satu divisi membutuhkan investasi modal sebesar $3 juta untuk membuat sebuah pabrik, sedangkan divisi yang lain hanya membutuhkan investasi modal sebesar $1 juta untuk membuat pabrik yang sama, yang lebih efisien jelas, investasi modal yang lebih kecil,dengan kata lain , divisi tersebut memberikan kepada para pemegang sahamnya pengembalian yang lebih baik atas investasi mereka.

Ukuran kinerja pusat investasi yang paling banyak digunakan adalah ROI. Pengukuran yang lain yang biasa disebut sebagai sisa pendapatan (residensial income), atau after capital charge, yang diperoleh dengan mengurangi biaya bunga dari pendapatan bersih yang diterima. Biaya bunga dapat didasarkan pada tingkat bunga perusahaan yang akan dibayarkan pada pemberi pinjaman atas asset yang digunakan perusahaan. Tingkat biaya bunga dapat pula didasarkan pada jumlah pendapatan yang akan diperoleh jika asset perusahaan diinvestasikan di tempat lainnya.Walaupun metode sisa pendapatan ini lebih baik dari ROI oleh karena kemampuannya menghitung biaya modal yang digunakan, metode ini tidak pernah mampu menyamai popularitas ROI (32).

Kinerja pusat investasi dapat pula diukur berdasarkan kontribusinya terhadap nilai pemegang saham melalui penggunaan nilai tambah ekonomis (economic value-added).Sebagai contoh, Briggs & Stratton menggunakan EVA untuk mengukur kinerja lima divisinya yang membuat mesin bagi mesin pemotong rumput, pompa air dan produk – produk lainnya. Setiap divisi mengetahui berapa EVA-nya dan hal itu membuat mereka menggunakan sumberdaya dari luar (outsourcing) untuk mengurangi biaya.Perusahaan menghapuskan setahap demi setahap produksi mesin – mesin besar keperluan pompa air dan generator, melepaskan modal yang telah digunakan dengan tidak menghasilkan keuntungan dalam proses pemanufakturan produk mereka. Perusahaan kemudian membeli keluar mesin – mesin unggul ditempat lain yang lebih murah biayanya. Ketika perusahaan mampu meningkatkan 7,7 persen tingkat pengembalian atas modal yang dikeluarkan return on capital (pada waktu biaya modal pada saat itu sebesar 12 persen), maka harga sahamnya meningkat dari $20 per lembar saham menjadi $80 (33) .

Perusahaan bisnis tunggal pada umumnya seperti Apple Computer, cenderung menggunakan kombinasi pusat pertanggungjawaban yang terdiri dari pusat biaya, pusat pengeluaran dan pusat pendapatan.Dalam perusahaan – perusahaan tersebut, kebanyakan manajernya adalah para ahli dibidangnya dan mengelola berdasarkan anggaran dan profitabilitas total diintegrasi pada tingkat koorporasi.Perusahaan – perusahaan yang memproduksi produk – produk yang dominan, seperti Anheuser-Busch, yang terdiversifikasi ke dalam lima unit bisnis kecil namun tetap tergantung pada sebuah lini produk tunggal untuk sebagian besar laba dan penerimaannya, umumnya menggunakan kombinasi pusat pertanggungjawaban yang terdiri dari pusat biaya , pusat pengeluaran , pusat penerimaan dan pusat laba . Perusahaan – perusahaan multidivisional seperti General Electric cenderung memberi perhatian besar pada pusat – pusat investasi walaupun dalam berbagai unit perusahaan digunakan juga jenis – jenis pusat pertanggung jawaban yang lain (34).Satu masalah yang sering muncul dalam penggunaan pusat – pusat pertanggung jawaban ini adalah kadang – kadang pusat pertanggung jawaban menyulitkan perhitungan yang diperlukan untuk menganalisis rantai nilai untuk mencari hubungan yang sinergis antar unit unit yang ada (35).

Benchmarking

Menurut Xerox Company, perusahaan yang mempelopori konsep ini di Amerika Serikat, benchmarking atau patok duga adalah proses berkelanjutan dalam mengukur produk , jasa layanan dan praktik – praktik bisnis terhadap pesaing yang paling tangguh atau pada perusahaan – perusahaan yang diakuinya sebagai pemimpin dalam industrinya (36). Sebagai program yang sedang meningkat popularitasnya, patok duga / benchmarking didasarkan pada konsep bahwa menemukan kembali sesuatu yang sedang digunakan oleh orang lain adalah hal yang tidak masuk akal. Patok duga ini secara terbuka melibatkan proses pembelajaran bagaimana orang lain melakukannya dan meniru atau mungkin bahkan meningkatkan teknik teknik yang digunakan oleh orang lain. Proses patok duga terdiri dari langkah langkah berikut ini:

1. Identifikasi wilayah atau proses yang akan diuji. Wilayah atau proses tersebut harus merupakan aktivitas yang berpotensi menentukan keunggulan kompetitif sebuah unit bisnis.
2. Temukan alat ukur terhadap perilaku dan output yang dihasilkan oleh proses dan dapatkan cara pengukurannya.
3. Pilih sekelompok pesaing dan perusahaan yang terbaik dalam kelasnya yang dapat diakses untuk dipatok – duga. Perusahaan – perusahaan tersebut mungkin berbeda sepenuhnya dalam industry yang dimasuki. Namun memilki kesamaan aktivitas. Sebagai contoh , ketika Xerox ingin meningkatkan kinerjanya dalam mengerjakan dan memenuhi pesanan yang diterima , Xerox pergi ke L.L Bean, perusahaan pesanan pos yang berhasil , untuk mempelajari bagaimana perusahaan tersebut mampu mencapai keunggulannya dalam bidang tersbeut .
4. Hitung perbedaan yang terjadi antara pengukuran kinerja perusahaan dengan perusahaan – perusahaan yang mampu mencapai yang terbaik dalam kelasnya. Tentukan juga mengapa ada perbedaan tersebut.
5. Kembangkan program – program taktis untuk menutup kesenjangan kinerja tersebut.
6. Implementasi program tersebut, ukur hasilnya yang diperoleh dan bandingkan hasilnya dengan perusahaan – perusahaan yang terbaik dalm kelasnya.

Dari survey terhadap 580 organisasi dalam industry computer, otomotif, rumah sakit , perbankan , dll , ditemukan bahwa 31 persen perusahaan – perusahaan Amerika Serikat secara teratur melakukan patok duga / benchmarking terhadap produk dan jasa yang mereka hasilkan dan hanya 7 persen yang tidak pernah melakukannya. Perusahaan – perusahaan yang dijadikan patok duga oleh perusahaan adalah mencakup Xerox , AT&T, Du Pont, Ford , IBM , Eastman Kodak, Motorola, Mellon Bank dan banyak perusahaan lainnya yang lebih kecil dan yang bergerak dalam industry yang kurang dikenal (37). Sebagai contoh , Manco,Inc. Produsen kecil yang memproduksi pita tape di Cleveland, secara teratur mematok duga dirinya terhadap Wal-Mart, Rubbermadi dan PepsiCo untuk memampukan dirinya bersaing dengan lebih baik dengan raksasa 3M (38). The American Productivity & Quality Center, uatu kelompok penelitian baru baru ini menerbitkan “database praktik – praktik bisnis terbaik” dari 600 teknik terkemuka yang telah digunakan oleh 250 perusahaan . (39) .


10.3 Sistem Informasi Strategis

Sebelum alat ukur kinerja yang dapat mempengaruhi manajemen strategis digunakan, alat – alat ukur tersebut harus dikomunikasikan terlebih dahulu dengan orang – orang yang bertanggung jawab terhadap perunusan implementasi rencana – rencana strategis .Sistem informasi strategis berbasis computer ataupun manual, formal atau informal dapat melakukan fungsi tersbeut dengan memberikan layanan informasi yang dibutuhkan oleh manajemen puncak (40).Salah satu alasan utama bangkrutnya Internasional Harvester adalah ketidakmampuan manajemen puncak perusahaan untuk menentukan dengan tepat pendapatan yang diterima dari produk – produk yang sejenis dalam kelompok utama produknya. Karena ketidakmampuannya tersebut , pihak manajemen tetap berusahan melakukan usaha yang sia – sia untuk memperbaiki bisnis yang sekarat itu dan tidak mampu merespon dengan fleksibel perubahan – perubahan besar yang terjadi dan peristiwa – peristiwa tidak terduga lainnya (41). Sebaliknya salah satu kunci sukses Toys ‘R’ Us adalah kemapuan pihak manajemen untuk menggunakan canggihnya system informasi perusahaan untuk mengontrol keputusan – keputusan pembelian, seperti yang dijelaskan dibagian “strategi dalam tindakan” pada halaman 405 .

Faktor – faktor penting kesuksesan (critical success factors/CSF) adalah berbagai hal yang harus berjalan dengan baik untuk menjamin keseksesan sebuah perusahaan(42). Khususnya faktor–faktor tersbeut adalah 20 persen dari faktor – faktor yang menentukan 80 persen kinerja sebuah perusahaan atau unit bisnis (43).Critical Success Factors seharusnya merupakan:

1. Faktor penting untuk mencapai keseluruhan sasaran dan tujuan perusahaan;
2. Faktor yang dapat diukur dan dikendalikan oleh organisasi ketika diaplikasi;
3. Relatif sedikit jumlahnya – karena tidak semua faktor dapat menjadi faktor yang penting.
4. Mengekspresikan berbagai hal yang harus dilaksanakan.
5. Dapat diaplikasikan pada seluruh perusahaan dalam industry yang memilki kesamaan sasaran dan strategi;
6. Bersifat hirarkis – beberapa CSF akan berpengaruh terhadap keseluruhan perusahaan sementara faktor lainnya pengaruhnya lebih sempit, yaitu dalam satu wilayah fungsional.(44) .

CSF memberikan titik awal untuk mengembangkan satu sistem informasi.Sistem informasi tertentu akan menunjukkan dengan tepat wilayah – wilayah penting yang menuntut perhatian seorang manajer.

Pada tingkat divisional atau SBU, system informasi harus mampu mendukung, memperkuat atau memperluas strategi tingkat unit bisnis dengan satu komponen pendukung keputusan.(45).SBU yang menggunakan strategi yang menekankan kepemimpinan biaya pada seluruh aspek, dapat menggunakan system informasinya untuk membantu mengurangi biaya baik itu melalui peningkatan produktifivitas atau melalui penggunaan sumber – sumber daya lainnya, seperti persediaan atau mesin – mesin lainnya . Merril Lynch menggunakan pendekatan ini ketika ia mengembangkan perangkat lunak PRISM yang akan memberikan kepada 500 kantor cabangnya yang ada di Amerika Serikat, akses yang lebih cepat pada informasi keuangan dalam rangka memacu efisiensi para pialangnya. (46). SBU lain, sebaliknya, mungkin perlu menggunakan strategi differensiasi.SBU lain,sebaliknya mungkin perlu menggunakan strategi diferensiasi.SBU tersebut dapat menggunakan system informasinya untuk membantu menambah keunikan pada produk atau jasa yang dihasilkannya dan memberikan kontribusi pada kualitas, jasa layanan atau citra yang diinginkan oleh wilayah - wilayah fungsionalnya. Ketika Federal Express perlu menggunakan jasa superiornya untuk memperoleh keunggulan kompetitif, perusahaan tersebut melakukan investasi besar – besaran dalam berbagai jenis system informasi untuk menelusuri dan mengukur kinerja jasa layanan antarnya .(47).

Pemilihan strategi tingkat unit bisnis akan menentukan jenis system informasi yang dibutuhkan oleh suatu SBU baik dalam mengimplementasikan maupun mengontrol aktivitas – aktivitas strategis. Berbagai system informasi yang ada akan dibentuk secara berbeda – beda untuk memonitor aktivitas yang berbeda – beda pula , karena dua jenis strategi tingkat unit bisnis tersbeut memilki faktor – faktor penting kesuksesan yang juga berbeda .






Contoh Kasus : Strategi Dalam Tindakan
Contoh : Toy “R’ Us Menggunakan Sistem Informasi untuk Mengendalikan Pembelian

Sejak tahun 1978, penjualan Toy “R” Us tumbuh berlipat ganda 28 persen setiap tahunnya,Salah satu kunci sukses perusahaan adalah digunakannya system informasi yang canggih. Mesin hitung uang yang ada di 300 toko yang berada di Amerika Serikat mengirimkan informasi setiap harinya ke computer di kantor pusat perusahaan di Rochelle Park, New Jersey. Dengan demikian,setiap pagi para manajer mengetahui dengan pasti berapa banyak item yang telah terjual pada hari sebelumnya, berapa banyak yang telah terjual sejauh ini dalam setahun, dan bagaimana penjualan tahun ini dibanding tahun lalu.

Sistem informasi yang ada memungkinkan pemesanan kembali secara otomatis melalui computer tanpa melakukan input manajerial .Sistem itu juga memungkinkan perushaan untuk melakukan eksperimen dengan mainan baru tanpa harus terlebih dahulu melakukan pemesanan besar – besaran. Dengan sistem tersebut para pelanggan juga dapat memutuskan, melalui pembelian mereka, apa yang yang harus dipesan kembali. Presiden Direktur Charles Lazarus sangat menghargai system informasi, sehingga ketika ada konflik antara penilaiannya dengan keputusan yang dberikan computer, ia memilih keputusan yang diberikan computer. Sebagai contoh, beberapa tahun yang lalu, ia secara pribadi berpendapat bahwa boneka Cabbage Patch buruk dan tidak terfikir olehnya bahwa anak – anak akan ingin memegangnya. Namun demikian, system informasi memberikan data yang berbeda, yaitu adanya pola pembelian konsumen dan pemesanan kembali yang besar, Sistem itu juga mampu menginformasikan turunnya permintaan , missal ketika mode Trivial Pursuit mulai memudar .
(Sumber : S.N Chakrvarty, “Will Toys “B” Great?” Forbes (22 Februari 1998), hal. 37-39).


10.4 Berbagai Masalah Dalam Mengukur Kinerja

Pengukuran kinerja merupakan hal penting dalam proses evaluasi dan pengendalian. Minimnya sasaran–sasaran yang dapat diukur atau tidak adanya standar kinerja dan tidak mempunyai sistem informasi untuk memberikan hasil tepat pada waktunya, serta tidak validnya informasi yang diberikan adalah dua hal nyata dalam masalah pengendalian (49).Jika tidak ada sasaran dan pengukuran yang tepat waktu, maka keputusan – keputusan yang berhubungan dengan operasional menjadi sangat sulit untuk dilakukan atau dengan kata lain membuat strategi berjalan sendirian .Namun demikian , digunakannyainformasi yang tepat waktu standar kinerja yang dapat dikuantifikasi tidaklah menjamin adanya kinerja yang cukup memadai. Perilaku yang berlebihan dalam pemantauan dan pengukuran kinerja dapat menimbulkan efek samping yang mengganggu keseluruhan kinerja perusahaan .Di antara efek samping negative yang paling sering muncul adalah orientasi jangka pendek dan perubahan tujuan.




Orientasi Jangka Pendek

Hodgerts dan Wortman menyatakan bahwa dalam banyak situasi, eksekutif puncak tidak menganalisis entah itu implikasi jangka panjang operasi perusahaan saat ini sebagai bagian dari strategi yang mereka adopsi atau dampak operasional sebuah strategi terhadap misi perusahaan.Mereka juga melaporkan bahwa para eksekutif juga tidak melakukan evaluasi jangka panjang karena mereka:

1. Mungkin tidak menyadari kepentingan – kepentingan yang harus diperhatikan
2. Mempercayai bahwa pertimbangan – pertimbangan jangka pendek lebih penting disbanding pertimbangan – pertimbangan jangka panjang
3. Mungkin secara pribadi tidak mengevaluasinya berdasarkan pertimbangan jangka panjang
4. Mungkin tidak memilki waktu untuk melakukan evaluasi jangka panjang(50).

Tidak ada bukti nyata terhadap alasan pertama dan yang terakhir.Jika para eksekutif menyadari arti penting evaluasi jangka panjang, maka mereka akan menyisihkan waktu untuk melakukannya. Walaupun banyak eksekutif puncak menunjukkan adanya tekanan dari masyarakat penanam modal untuk melakukan hal tersebutdan memberikan insentif jangka pendek serta program promosi untuk mendukung alasan kedua dan ketiga ,bukti – bukti yang ada tidak selalu mendukung apa yang sering mereka nyatakan .

Survei terhadap 400 eksekutif puncak di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 98 persen dari mereka setuju bahwa industry mereka dapat dikritik karena memfokuskan pada pendapatan yang diterima pada triwulan berikutnya atau harga saham pada amsa yang akan dating.Lebih dari setengahnya percaya bahwa lembaga para penanam modal telah meningkatkan tekanan mereka terhadap para eksekutif puncak untuk meningkatkan kinerja jangka pendek perusahaan (51).Akan tetapi, penelitian ini menyatakan bahwa pandangan terhadap tekanan jangka pendek tersebut lebih didasarkan pada kepentingan pribadi dan pandangan umum dibandingkan tekanan actual yang ada.Studi itu juga menunjukkan bahwa bursa saham juga melakukan penilaian investasi jangka panjang. Dan para investor tersebut (bahkan lembaga para penanam modal) sungguh – sungguh menilai laba yang tidak akan diperoleh dalam lima tahun atau tahun – tahun berikutnya (52).Namun demikian, pada saat ini bursa saham tidak memberikan penilaian pada strategi investasi tertentu. Bagian “ Sorotan Perusahaan : Maytag Coorporation “ Pada halaman 408 , menggambarkan respon masyarakat investasi terhadap akuisisi Maytag terhadap Hoover (Pengaruhnya terhadap harga saham Maytag).

Banyak pengukuran berdasarkan akuntansi mendorong penekanan kinerja hanya pada jangka pendek.Tabel 10.1 menunjukkan salah satu keterbatasan ROI , yakni pengukuran kinerja yang bersifat jangka pendek, tetapi memang pada praktiknya sulit untuk menerapkan pengukuran tersebut pada kinerja jangka panjang. Terlebih lagi, karena para manajer dapat memanipulasi baik numerator-nya (pendapatan) maupun denominator-nya (investasi),sehingga angka ROI yang diberikan tidak ada artinya. Akibat lainnya adalah upaya- upaya dalam periklanan,perawatan dan penelitian dapat terabaikan. Merger mungkin dilakukan jika dipandang akan dapat lebih meningkatkan pendapatan tahun ini (dan penerimaan tahun depan) daripada meningkatkan laba perusahaan atau divisi di masa yang akan datang.(Studi terhadap 55 perusahaan yang melakukanakuisisi, manajemen puncak masih menerima peningkatan yang signifikan dalam kompensasi yang mereka terima!)(53). Proses melengkapi kembali peralatan dan modernisasi pabrik yang mahal dapat tertunda ketika seorang manajer memanipulasi angka produksi yang cacat dan tingkat absensi karyawan .

Upaya – upaya mengimbangi distorsi – distorsi tersbeut cenderung menciptakan sistem pengendalian akuntansi yang ketat, yang menghambat kreativitas dan fleksibilitas dan bahkan membawa kepada praktik – praktik yang dapat dipertanyaan tentang “akuntansi yang kreatif “ (54). Sebagai contoh , manajemen puncak Regina Corporation, perusahaan pemanufaktur penghisap debu, mengaku pada SEC (Securities and Exchange Comission) bahwa mereka telah me-mark up penjualan, laba dan pendapatan dengan menghilangkan satu hal yang mengganggu dari laporan keuangan , yaitu jumlah produk yang dikembalikan oleh para pelanggan .Walaupun biasanya jumlah pembeli yang mengembalikan produk penghisap debu sekitar 5 persen untuk seluruh penghisap debu yang terjual di Amerika Serikat, untuk para pelanggan Regina jumah produk yang dikembalikan adalah 20 – 25 Persen atau lebih dari produk senilai $13 juta penjualan penghisap debu produksi Regina! Tipuan lainnya untuk memberikan “kesan baik” adalah melakukan pengiriman produk pada hari – hari terakhir di akhir tahun untuk mengurangi persediaan (sehingga membanjiri para distributor) dan memperbesar (atau mengurangi) tahun depresiasi persediaan, baik dalam upaya meningkatkan laba tahun tersbeut untuk memberikan kesan baik pada bursa saham atau untuk mengurangi laba dalam upaya pajak yang harus dibayar (55).

Konsep Penyusutan

Penyusutan (Depreciation) merupakan salah satu konsekwensi atas penggunaan aktiva tetap, dimana aktiva tetap akan mengalami ke-aus-an atau penurunan fungsi.


Apa Itu Penyusutan (Depreciation) ?

Logika umum :

Penyusutan (Depreciation) merupakan cadangan yang nantinya digunakan untuk membeli aktiva baru untuk menggantikan aktiva lama yang sudah tidak produktif lagi .

Bandingkan dengan yang dibawah ini ……

Logika Akuntansi :

Penyusutan (Depreciation) adalah Harga Perolehan Aktiva Tetap yang di alokasikan ke dalam Harga Pokok Produksi atau Biaya Operasional akibat penggunaan aktiva tetap tersebut.

atau ;

Cost/Exepenses yang diperhitungkan (dibebankan) dalam Harga Pokok produksi atau biaya operasional akibat pengunaan aktiva di dalam proses produksi dan operasional perusahaan secara umum.

Pencatatan (Jurnal) Atas Penyusutan :

Bentuk Jurnalnya :
[-Debit-]. Depreciation = xxxx
[-Credit-]. Accumulated Depreciation = xxxx

Saat pencatatan :
Biasanya dicatat (dibukukan) pada saat penutupan buku (entah : akhir bulan, akhir kwartal, akhir tahun buku).

Besar-nya :
Dicatat sebesar nilai penyusutannya, tergantung berbagai faktor (lebih rincinya, lanjutkan ke sub pokok bahasan berikut ini…).


Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Biaya Penyusutan

1. Harga Perolehan (Acquisition Cost)

Harga Perolehan adalah faktor yang paling berpengaruh terhadap biaya penyusutan. Mengenai "Harga Perolehan" telah kita bahas secara rinci pada artikel sebelumnya, yang belum membaca, silahkan [-baca-]

2. Nilai Residu (Salvage Value)

Merupakan taksiran nilai atau potensi arus kas masuk apabila aktiva tersebut dijual pada saat penarikan/penghentian (retirement) aktiva. Nilai residu tidak selalu ada, ada kalanya suatu aktiva tidak memiliki nilai residu karena aktiva tersebut tidak dijual pada masa penarikannya alias di jadikan besi tua, hingga habis terkorosi. Tentu saja ini tidak dianjurkan, alangkah bagusnya jika di daur ulang.

3. Umur Ekonomis Aktiva (Economical Life Time)

Sebagian besar, aktiva tetap memiliki 2 jenis umur, yaitu :

Umur fisik : Umur yang dikaitkan dengan kondisi fisik suatu aktiva. Suatu aktiva dikatakan masih memiliki umur fisik apabila secara fisik aktiva tersebut masih dalam kondisi baik (walaupun mungkin sudah menurun fungsinya).

Umur Fungsional : Umur yang dikaitkan dengan kontribusi aktiva tersebut dalam penggunaanya. Suatu aktiva dikatakan masih memiliki umur fungsional apabila aktiva tersebut masih memberikan kontribusi bagi perusahaan. Walaupun secara fisik suatu aktiva masih dalam kondisi sangat baik, akan tetapi belum tentu masih memiliki umur fungsional. Bisa saja aktiva tersebut tidak difungsikan lagi akibat perubahan model atas produk yang dihasilkan, kondisi ini biasanya terjadi pada aktiva mesin atau peralatan yang dipergunakan untuk membuat suatu produk. Atau aktiva tersebut sudah tidak sesuai dengan jaman (not fashionable), kondisi ini biasanya terjadi pada jenis aktiva yang bersifat dekoratif (misalnya : furniture/mebeler, hiasan dinding, dsb).

Dalam penentuan beban penyusutan, yang dijadikan bahan perhitungan adalah umur fungsional yang biasa dikenal dengan umur ekonomis.

4. Pola Penggunaan Aktiva

Pola penggunaan aktiva berpengaruh terhadap tingkat ke-aus-an aktiva, yang mana untuk mengakomodasi situasi ini biasanya dipergunakan metode penyusutan yang paling sesuai.


Metode-metode Penyusutan (Depreciation Method)

Ada berbagai metode penyusutan, hanya beberapa metode saja yang biasa dipergunakan.

Berikut adalah 2 metode penyusutan yang paling banyak dipergunakan, karena paling mudah dan paling relevan dengan perlakuan akuntansi.


Metode Garis Lurus (Straight Line Method)

Konsep dasarnya :

Metode ini menganggap aktiva tetap akan memberikan kontribusi yang merata (tanpa fluktuasi) disepanjang masa penggunaannya, sehingga aktiva tetap akan mengalami tingkat penurunan fungsi yang sama dari periode ke periode hingga aktiva diarik dari penggunaannya.

Metode ini termasuk yang paling luas dipakai. Untuk penerapan “Matching Cost Principle”, metode garis lurus dipergunakan untuk menyusutkan aktiva-aktiva yang fungsionalnya tidak terpengaruh oleh besar kecilnya volume produk/jasa yang dihasilkan. Misalnya : bangunan, peralatan kantor.

Formula :

Atau dengan menggunakan rate prosentase, dengan formula :

Contoh Kasus :

Sebuah mesin diperoleh pada tanggal 1 Januari 2007 dengan harga Rp 8,000,000 ditaksir memiliki umur ekonomis 8 tahun, dan apabila nanti ditarik diperkirakan besi tuanya dapat dijual seharga Rp 150,000. Tambahan informasi : Perusahaan menggunakan metode garis lurus.

Beban penyusutan untuk tahun 2007, dihitungan dengan cara :

Depreciation Cost = 12/12 x [(Rp 8,000,000–150,000) : 8] = Rp 981,250,-

Jika aktiva tetap tersebut diperoleh pada tanggal 05 Pebruari 2007, maka dihitung dengan cara = 11/12 x [(Rp 8,000,000 – 150,000) : 8]

Jika diperoleh pada tanggal 20 Pebruari 2007, maka dihitung 10/12 x [(Rp 8,000,000 – 150,000) : 8]

…….dan seterusnya

Jika tanpa nilai residu, maka variable nilai residu tidak diperhitungkan (lihat formula di atas).

Atas pembebanan penyusutan ini dicatat sebagai berikut :

[-Debit-]. Depreciation = Rp 981,250,-
[-Credit-]. Accumulated Depreciation = Rp 981,250,-

Jika aktiva tersebut diperoleh di awal tahun (01~14 Januari), maka tabel “Jadwal Penyusutan Aktiva ” selama umur ekonomisnya, akan menjadi sebagai berikut :



Bandingkan kedua tabel di atas : Bagian mana yang berbeda ?.
Pada tabel pertama (dengan memperkirakan adanya salvage value), di akhir tahun ke-8, terlihat masih ada NILAI BUKU (Book Value) aktiva sebesar Rp 150,000, INILAH YANG DISEBUT NILAI RESIDU (Salvage Value) dimana jika aktiva tersebut dijual pada akhir penggunaannya nanti diperkirakan akan laku seharga Rp 150,000,-. Di sisi lainnya, biaya penyusutan yang dibebankan tidak sepenuhnya Rp 1,000,000 per tahunnya.
Pada tabel kedua (dengan tidak memperkirakan adanya salvage value), pada akhir tahun ke-8, NILAI BUKU (Book Value) benar-benar Nihil (nol), artinya : perusahaan memperkirakan aktiva tersebut tidak akan menghasilkan arus kas (tidak bisa dijual) pada akhir masa penggunaannya nanti. Di sisi lain, penyusutan dibebankan sepenuhnya Rp 1,000,000 setiap tahunnya.

Metode Saldo Menurun (Declining Balance Method)

Konsep Dasarnya :

Aktiva tetap dianggap akan memberikan kontribusi terbesar pada periode diawal-awal masa penggunaanya, dan akan mengalami tingkat penurunan fungsi yang semakin besar di periode berikutnya seiring dengan semakin berkurangnya umur ekonomis atas aktiva tersebut.

Metode ini sesuai jika dipergunakan untuk jenis aktiva tetap yang tingkat kehausannya tergantung dari volume produk yang dihasilkan, yaitu jenis aktiva mesin produksi.

Formula :

Contoh Kasus :

Mempergunakan contoh kasus sebelumnya.....

Cari "rate penyusutan (d%)" terlebih dahulu, perhatikan perhitungan dibawah :




Dengan menggunakan rate di atas, yaitu sebesar 39%, “Jadwal Penyusutan” menggunakan Declining Balance Method dapat dibuat, seperti dibawah :

Memperhatikan table di atas, dapat dilihat bahwa dengan menggunakan Metode Saldo menurun (Declining Balance Method), salvage value di akhir tahun ke delapanpun hasilnya kurang lebih sama dengan jika menggunakan Metode Garis Lurus (Straight Line Method) yaitu Rp 150,000. Hanya saja, jika kita perhatikan pada kolom “Depreciation (penyusutan) nampak bahwa dengan menggunakan metode Saldo Menurun, harga perolehan yang dialokasikan ke dalam penyusutan (dibebankan pada Harga Pokok Penjualan) dialokasikan sebagian besar pada awal-awal penggunaan aktiva tersebut. Hal ini didasari oleh konsep yang dianut oleh metode ini, dimana suatu aktiva (khusunya mesin produksi) dianggap memberikan best performance diawal-awal penggunaannya.

Jurnal pembebanan penyusutan pada methode ini sama saja dengan metode garis lurus.

Catatan Penting :

Dimungkinkan untuk menggunakan metode yang manapun untuk jenis aktiva yang manapun, yang terpenting :

(-). Metode apapun yang dipergunakan, hendaknya diterapkan secara konsisten.

(-). Jika perusahaan mengganggap perlu melakukan perubahan atas metode penyusutan yang diterapkan, hendaknya dicantumkan dalam penjelasan atas sistem akuntansi yang dipergunakan pada laporan keuangan, disertai dengan alasannya.

Laporan Laba Rugi

a. Hubungan Rugi Laba Dan Neraca
Angka laba rugi merupakan informasi penting yang di cantumkan dalam laba rugi. Dalam neraca bisa bisa ditampilkan melalui Pos Laba Ditahan atau Pos Laba Rugi. Laporan laba rugi ini adalah penjelasan lengkap dan lebih rinci tentang perhitungan laba rugi ini.
Dalam teori akuntansi dikenal dua pendekatan dalam menilai hubungan antara neraca dan laba rugi, yaitu articulated dan non articulated. Pendekatan articulated artinya laporan laba rugi itu dianggap sebagai subklasifikasi dari pos modal. Sementara pendekatan non articulated artinya neraca dan laporan laba rugi ini secara matematis independen satu sama lain.
Dalam pendekatan articulated ada 2 konsep, yaitu konsep revenue expense approach dan asset laibility approach. Dalam konsep pertama, revenue expense, laporan laba rugi dianggap laporan yang paling utama semua transaksi dipandang sebagai pos revenue dan expense, semua transaksi dianggap sebagai pengakuan laba (matching), pengakuan laba dan alokasi ke laba rugi. Dalam konsep ini yang dipindah neraca adalah by product dari hasil pengakuan laba atau matching tadi. Artinya yang dicatat hanya deferred kredit (liabillities) dan deferred charges (asset).
b. Konsep Matching.
Biaya adalah semua yang di bebankan kepada produk barang dan jasa yang akan dijual untuk mendapatkan revenue. Biaya itu tidak termasuk dalam produk itu bisa juga belum termasuk didalamnya karena mungkin saja mendahului atau dikeluarkan/accrued setelah selesainya produk, misalnya biaya penyusutan, perizinan, asuransi dan gaji.
Menurut teori matching concept, maka biaya harus dibebankan sesuai dengan pengakuan dan periode panghasilan. Dalam hal sukar melakukan matching, maka pembebanan harus dilakukan secara rasional dan sistematis. Berdasarkan waktu pengeluaran/pembebanan biaya dan prinsip matching dikenal 2 konsep berikut :
1. Direct atau Product Matching.
Pada saat penjualan atau hasil diketahui, hasil ini di match dengan biaya yang berkaitan dengan produk atau jasa yang dijual itu. Periode ini disebut juga biaya produk. Konsep ini adalah konsep yang mengabaikan beberapa masalah antara lain biaya yang belum bisa dikaitkan langsung dengan prosuk itu sehingga dalam konsep ini semua biaya lain diluar biaya produk atau jasa itu dianggap sebagai aktiva yang dialihkan ke periode yang akan datang.
2. Indirect atau Periode Matching.
Disini matching dilakukan antara hasil yang diperoleh dengan seluruh biaya yang dikeluarkan/sibebankan selama periode dimana digunakan bukan berdasarkan waktu perolehan atau pembayaran ini disebut biaya periodik. Sebenarnya ini bukan murni matching ini adalah approximation dari matching. Namun konsep ini dapet diterimakarena beberapa alasan sebagai berikut :
a. Banyak biaya periodik secara tidak langsung dikaitkan dengan biaya pada periode sekarang sehingga tidak berbeda antara matching menurut dasar penggunaan atau dasar waktu pelaporan.
b. Untuk hal-hal tertentu sukar mengidentifikasi hubungan langsung antara jenis hasil dan biaya.
c. Jika misalnya suatu biaya tidak bisa dianggap akan memberikan kontribusi terhadap hasil yang akan datang mengapa tidak dibebankan kepada periode sekarang.
d. Untuk biaya yang bersifat berulang-ulang dan reguler, tidak ada pengaruh material terhadap masalah kapan dibiayakan.
e. Banyak biaya bersifat joint cost yang sukar diasosiasikan untuk hasil tertentu sehingga memerlukan alokasi arbitrer dengan menggunakan dasar waktu.
c. Definisi Hasil, Biaya, dan Laba.
1. Hasil (Revenue).
Committee on Terminology mengidentifikasikan revenue sebagai hasil darim penjualan barang atau jasa yang dibebankan kepada langganan atau mereka yang menerima jasa. Definisi ini menggunakan pendekatan revenue expense.
2. Biaya (Expense).
Menurut Committee on Terminology adalah semua biaya yang telah dikenakan dan dapat dikurangkan pada penghasilan.
Biaya biasa nya dibagikan kepada 3 golongan, yaitu :
• Biaya yang dihubungkan dengan penghasilan pada periode itu.
• Biaya yang dihubungkan dengan periode tertentu yang tidak dikaitkan dengan penghasilan
• Biaya yang karena alasan praktis tidak dapat dikaitkan dengan periode manapun.
3. Gain and Loss.
- Gain (laba/keuntungan dari ttransaksi tertentu yang sifatnya insidentil).
Diluar laba diatas, adalagi penggolongan laba diluar laba tersebut yaitu yang dikenal dengan istilah gain. Gain adalah naiknya nilai ekuitas dari transaksi yang sifatnya insidentil dan bukan kegiatan utama entitas dan dari transaksi kejadian lainnya yang mempengaruhi entitas selama satu periode tertentu kecuali yang berasal dari biaya atau pemberian kepada pemilik.
- Losses (rugi dari transaksi tertentu yang sifatnya insidentil) :
Losses adalah turunnya nilai ekuitas dari transaksi yang sifatnya insidentil dan bukan kegiatan utama entitas dan dari seluruh transaksi kejadian lainnya yang mempengaruhi entitas selama periode tertentu kecuali yang berasal dari biaya atau pemberian kepada pemilik (prive).
4. Laba Rugi
Menurut Committee on Terminology, laba adalah jumlah yang berasal dari pengurangan harga pokok produksi, biaya lain, dan kerugian dari penghasilan atau penghasilan operasi.
Menurut APB statement mengartikan laba (rugi) sebagai kelebihan (defisit) pengahasilan diatas biaya selama satu periode akuntansi.
Dari definisi dua pertama, dapat dilihat dengan jelas bahwa definisi itu condong pada pendekatan revenue expense approach, sedangkan definisi tarkhir cenderung asset liabillity approach.
d. Pengakuan Penghasilan.
Kapan revenue dianggap sebagai penghasilan. Secara teoritis pertanyaan ini dapat dijawab sebagai berikut.
Dalam hal waktu yang dimaksud disini ada 4 alternatif, yaitu :
- Selama produksi
- Pada saat produksi selesai.
- Pada saat penjualan.
- Pada saat penagihan kas.
e. Bentuk Penyajian Laba Rugi.
Dalam menyajikan laporan laba rugi dikenal :
1. Current Operating Income.
2. All Inclusive Income.
Perbedaan ini timbul akibat perbedaan pendapatan mengenai apakah suatu pos disajikan dalam laporan laba rugi atau dalam laporan laba ditahan. Ada yang berpendapat bahwa yang dicantumkan dalam laporan laba rugi hanyalah pendapatan yang berasal dari kegiatan normal (normal operating income), sedangkan pos yang berasal dari kegiatan yang tidak biasa dicantumkan saja dalam laporan laba ditahan sehingga laba di bottom line adalah laba normal. Pendapat ini menghasilkan konsep pelaporan normal operating income. Konsep ini mengganggap bahwa dalam menilai prestasi manajemen yang dinilai hanyalah yang berasal kegiatan normal tidak termasuk kegiatan insidentil dan angka inilah yang lebih tepatb dalam membuat prediksi kemampuan perusahaan mendapatkan laba dimasa yang akan datang.
Masalah yang dibahas dalam penyajian laba ini lebih difokuskan pada masalah konseptual tentang apa yang disebut laba. Masalah yang erat kaitannya dengan penyajian adalah pemisahan pelaporan pos-pos transaksi operasi dan pos-pos transaksi dengan pemilik (transaksi modal). Pos-pos operasi dalam arti luas (transaksi nonpemilik) pada umumnya dilaporkan melalui statemen laba-rugi, sedangkan pos-pos yang merupakan transaksi modal dilaporkan melalui statemen laba ditahan atau statemen perubahan ekuitas.
f. Income Smoothing – Creative Accounting.
Teory Efficiency Market Hypothesis (EMH) menyebutkan bahwa laporan keuangan dapat mempengaruhi pasar modal . ini berarti menunjukkan betapa pentingnya laporan keuangan. Biasanya laba yang stabil dimana tidak banyak fluktuasi atau varience dari suatu periode ke periode lain dinilai sebagai prestasi baik. Upaya menstabilkan laba ini disebut income smoothing. Income smoothing biasanya dilakukan dengan berbagai cara :
o Mengatur waktu kejadian transaksi.
o Memilih prinsip atau metode alokasi.
o Mengatur penggolongan antara laba operasi normal dan laba yang bukan dari operasi normal.
g. Perubahan Akuntansi.
Perubahan prinsip akuntansi bukan hanya mempengaruhi laba rugi periode berjalan, tetapi juga periode yang lalu. Perubahan ini ada 3 yaitu :
1. Perubahan dalam Prinsip Akuntansi.
Perubahan ini timbul dari penerapan prinsip akuntansi yang baru yang berbeda dari prinsip yang dianut sebelumnya,
2. Perubahan dalam Taksiran.
Dalam akuntansi kita sering melakukan taksiran, misalnya taksiran umur dan taksiran deposit barang tambang setelah beberapa lama kita mendapat informasi yang baru sehingga merubah taksiran yang lama disebut perubahan taksiran dalam akuntansi.
3. Perubahan dalam Laporan Entitas.
Perubahan ini terjadi sebagai akibat dari perubahan yang materiil terjadi dalam entitas yang sebelumnya dilaporkan melalui laporan keuangan.
PSAK memberi pedoman terhadap perubahan akuntansi ini sbb :
1. Pengaruh kumulatif dari perubahan ke prinsip akuntansi yang baru dilaporkan dalam perhitungan laba rugi periode berjalan, dan disajikan diantara pos biasa dan laba bersih.
2. Untuk perubahan penilaian persediaan dari atau ke metode LIFO di mana pengaruh kumulatif umumnya sulit ditentukan.
3. Laporan keuangan harus dinyatakan kembali secara retroaktif untuk perubahan berikut ini :
a. Perubahan dalam periode akkuntansi untuk kontrak pembangunan jangka panjang.
b. Perubahan ke atau dari metode biaya penuh dalam industri ekstraktif.
4. Sifat dan alasan dilakukan perubahan dalam kebijakan akuntansi harus diungkapkan dalam catatan atas laporan kuangan periode terjadinya perubahan.
h. Keterbatasan Laporan Keuangan.
Bagaimanapun besarnya manfaat laporan keuangan, seorang users harus memahami keterbatasan yang dimiliki laporan keuangan agar dalam membacanya tidak menimbulkan salah tafsir.
Menurut PAI sifat dan keterbatasan laporan keuangan adalah sbb :
1. Laporan keuangan bersifat historis.
2. Laporan keuangan yang bersifat umum dan bukan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pihak tertentu.
3. Proses penyusanan laporan keuangan tidak luput dari penggunaan taksiran dan berbagai pertimbangan.
4. Akuntansi hanya melaporkan informasi material.
5. Laporan keuangan bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian; bila terdapat beberapa kemungkinan kesimpulan yang tidak pasti mengenai penilaian suatu pos, lazimnya dipilih alternatif yang menghasilkan laba bersih atau nilai aktiva yang paling kecil.
6. Laporan keuangan lebih menekankan pada makna ekonomis suatu peristiwa/transaksi dalam bentuk hukumnya.
7. Laporan keuangan disusun dengan menggunakan istilah-istilah teknis dan pemakai laporan diasumsikan memahami bahasa teknis akuntansi dan sifat dari informasi yang dilaporkan.
8. Adanya berbagai alternatif metode akuntansi yang dapat digunakan menimbulkan variasi dalam pengukuran sumber-sumber ekonomis dan tingkat kesuksesan antar perusahaan.
9. Informasi yang bersifat kualitatif dan fakta yang tidak dapet dikuantifikasikan umumnya diabaikan.
Powered By Blogger